Istana Mimpi

IMPIAN warga korban konflik Paya Leupak dan Keude Simpang Empat, Kecamatan Simpang Keuramat, Aceh Utara, mendapat rumah, sirna. Padahal data dan rekening bank sudah empat tahun lalu dikasih ke Dinas Sosial. Mereka pun tak sanggup sembunyikan kekesalannya.

Ada 10 rumah warga rumah terbakar di sana. Pada 2003, Dinas Sosial Aceh Utara mendata warga korban konflik. Mereka pun diiming-imingi bantuan rumah pengganti. Masyarakat setempat bersusah payah membuat proposal: meminta rumah baru type 36 ke pemerintah. Proposal itu—seperti—tak digubris. Setelah proposal, pada 2004 dinas meminta warga membuat rekening. “Alasan mereka agar mudah penyaluran dana,” cerita Rusli, warga Keude Simpang Empat. Warga patuh saja: membuat rekening atas nama masing-masing, lalu menyerahkan ke dinas.

Setelah persyaratan dipenuhi, warga menunggu; sabar. Lama-lama mereka tak tahan. Kekecewaan menghampiri. Warga protes. Mereka menengarai Dinas Sosial tak becus mengurusi bantuan rumah. Hingga saat ini, realisasi rumah bantuan dijanjikan belum datang. “Apakah ada permainan tidak sehat sengaja diciptakan dinas sosial?” tukas Rusli. Dia kecewa berat, merasa jadi objek permainan Dinas Sosial.

Dari daftar didata Dinas Soasial setempat, terdapat 10 nama: Anwar, Rusli, Ibrahim Makam, Ridwan, Aziz Syahmaun, M. Yakop, Abdullah Rasyid, A. Rajab, Wahab, Jaimun, dan Ilyas. Semuanya bernasib serupa.

“Sudah beberapa kali saya berusaha konsultasi dengan Dinas Sosial, namun hingga kini belum bisa ditemui,” ujar Ramadhan, ST, Ketua Barak NAD. Ramadhan prihatin. Dia meminta Dinas Sosial segera merealisasikan janji, agar warga tidak terus menunggu.

Entah bagaimana lagi kesabaran harus ditunjukan warga. Setelah lama menunggu, penantian pun tak kunjung menuai hasil. Kehidupan mereka bukan hanya dihantam badai: angin dan hujan. Akan tetapi mereka juga dihantam kekecewaan dan luka yang menyayat di hati.

Empat tahun penantian bukan masa yang wajar. Konon, selama menunggu, warga tak jelas tinggal di mana. Tak ada yang mau menengok bagaimana nasib mereka. Angin, debu, hujan, dan pasir bercampur dalam jubah penantian.

Warga kecewa. Hati mereka kian gundah. Sementara instansi yang menjanjikan, belum juga menujukan sikap sosialnya. Mungkin lupa, mungkin juga kekurangan bantuan. Atau pula dananya hilang. Pastinya, desa itu tetap tak terbangun sesuai janji.

Akibatnya, harapan warga hanya tercipta lewat penantian panjang. Rumah yang seyogyanya mereka citakan menjadi istana keluarga, menjelma istana mimpi dalam kidungan sendu.

Sebaiknya, Dinas Sosial segera bertindak cepat; action. Kucurkan setetes embun dari APBD dan APBN bagi warga korban konflik itu. Sehingga air mata mereka di istana mimpi, mengering dalam istana nyata. Semoga!

Azwani Awi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: