Meretas Jurnalistik di Krony Cafe

EMPAT unit air conditioner (AC—pendingin ruangan) di Krony Cafe Sulthan Hotel Internasional, tak mampu menyejukkan puluhan wartawan dan redaktur berbagai media di Aceh. Bukan karena cuaca panas. Tapi, hangatnya pembahasan materi jurnalistik di sana, membakar motivasi dan perhatian mereka.

Ruangan berornamen klasik perpaduan modern itu, sejak Selasa (Februari 2006) berlangsung kegiatan lokakarya peningkatan jurnalistik bagi redaktur di Aceh. Kegiatan diselenggarakan Dewan Pers dan Lembaga Pers Dr. Soetomo, Jakarta itu berlangsung selama dua hari.

Materi dikupas pun kian menarik. Lembaran pegetahuan satu-persatu dibuka. Peserta mendapatkan penyegaran mengenai Kode Etik dan Hukum Pers, Teknik Menyunting dan Panduan Bagi Redaktur, Cyber Journalism, Permasalahan Berbahasa, Jurnalistik Radio dan TV, serta Paparan Kasus Pers.

Kegiatan itu dipandu staf pengajar profesional dari LPDS dan Dewan Pers, yakni R. H. Siregar, Syahrir Wahab, Priyambodo, Sri Mustika, Pius Pope, dan S. Leo Batubara.

Banyak permasalahan menjalankan fungsi jurnalistik, dibahas pada kegiatan itu. Sharing pendapat dan pengalaman di media masing-masing, mendengungkan ruangan. Peserta pun ikut meretas pengetahuan jurnalistiknya.

Saat R. H. Siregar memaparkan permasalahan Kode Etik dan Hukum Pers, peserta tampak antusias memperhatikan segala delik yang—mungkin—terjadi ketika melaksanakan tugas. Pertanyaan pun menyembul. Terutama menyangkut pengalaman mereka saat bertugas di wilayah konflik.

Gaya masing-masing penyaji materi, membuat peserta kian betah. Meski ada beberapa merasa resah karena tak mampu menyerap pemaparan. “Semakin lama saya tertarik dengan materi di lokakarya ini,” kata Ismail M. Syah, Kepala Perwakilan Lhokseumawe Harian Serambi Indonesia.

Semangat peserta kian terpacu saat Sri Mustika menyajikan materi permasalahan berbahasa. Interaktif pun “memanas”. Silang debat mengitari audiens; membahas permasalahan berbahasa menurut versi masing-masing.

Ironisnya, ada peserta tidak memahami tatanan bahasa Indonesia, nimbrung menyampaikan argumennya. Namun, tidak sempat memperkeruh materi yang disampaikan karena cepat diluruskan oleh Sri Mustika.

Pada sesi terakhir, S. Leo Batubara memaparkan kasus pers. Semangat peserta yang mulai kendur karena lelah, bangkit kembali lantaran materi disampaikan berapi-api, dipadu bumbu-bumbu lelucon.

Beberapa peserta mengaku mendapatkan pencerahan usai mengikuti lokakarya tersebut. Apalagi, pemateri berasal dari LPDS. Mereka menguasai metode melepaskan “kusutnya benang” jurnalistik.

Mengapa para jurnalis merasa bangga bila mengikuti pelatihan di LPDS? “Karena di sana wartawan ditempa dan dibentuk menjadi jurnalis sebenarnya,” kata Mohsa El Ramadan, Alumni LPDS KPJ (Kursus Penyegaran Jurnalistik) V.

Paling tidak, bila telah menimba ilmu dari pakar jurnalistik di lembaga itu, wartawan dan redaktur kian luas pandangannya mengenai liku-liku jurnalistik. “LPDS mengajarkan ilmu jurnalistik dengan baik dan benar. Kredibilitas dan integritas lembaga ini telah teruji di tingkat nasional maupun internasional,” imbuh Ramadan.

Banyak manfaat ditimba dari sumur lembaga ini. Tidak hanya mengajarkan teknik menulis dan editing berita. Tapi, lembaga ini cukup konsisten menerapkan prinsip-prinsip idealisme dan etika profesi.

“Sebagai wartawan atau redaktur, Anda baru sadar belum ada apa-apanya jika masuk pendidikan di lembaga ini. Sebab, para instruktur LPDS adalah mantan pekerja pers yang memiliki track record tinggi,” ujar Ramadan.

AZWANI AWI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: