Perlawanan dari Rakyat

PEMILIHAN kepala daerah (Pilkada) langsung di Aceh telah usai. Namun, catatan kelam pelaksanaan Pilkada, menyisakan talenta hitam. Sejumlah pelanggaran yang terjadi saat pelaksanaan kampanye dan Pilkada, hingga kini belum terselesaikan.

Salah satu contoh seperti terjadi di Bener Meriah. Sekelompok orang mendatangi sekretariat panitia pengawas pemilihan (Panwaslih) setempat untuk mengadukan tindak pelanggaran yang dilakukan oleh beberapa Cabup/Cawabup di sana, beberapa hari sebelum pemilihan.

Organisasi masyarakat (Ormas) yang tergabung dalam Majelis Pimpinan Cabang (MPC) Pemuda Pancasila Bener Meriah, mengadu tentang pelanggaran berupa praktik money politic yang dilakukan salah satu pasangan Cabup. Aksi itu juga melibatkan oknum anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat.

Karena itu, mereka meminta tindak lanjut dari Panwas Bener Meriah yang dianggap tidak tegas dalam menjalankan tugasnya. “Semua pelanggaran dilakukan oleh Cabup/Cawabup harus ditanggapi dengan tegas oleh Panwas,“ ungkap Cemerlang, salah seorang dari puluhan anggota lembaga itu.

Tak hanya MPC Pemuda Pancasila Bener Meriah. Beberapa kelompok masyarakat lainnya juga telah menumpukkan berkas laporan pelanggaran Pilkada ke Panwas di Aceh. Laporan itu disertai bukti-bukti kuat. Bahkan ada yang menyiapkan beberapa orang untuk menjadi saksi. Tapi, hal tersebut tidak segera ditindaklanjuti oleh Panwas.

Mereka (Panwas) lebih cenderung wait and see (menunggu dan melihat). Sehingga mengabaikan faktor penting, yakni penindakan terhadap pelanggaran.

Padahal, masyarakat telah berani mengambil risiko untuk melaporkan pelanggaran yang terjadi. Mereka tidak khawatir bila bernasib sama dengan Reinhard Reni, 28 tahun, saksi mata pelanggaran pemilihan kepala daerah di Maluku Tenggara Barat (MTB), yang dibunuh orang tak dikenal di atas kapal motor Banda Neira. Dia dibunuh sehari sebelum bersaksi di Pengadilan Tinggi (PT) Maluku.

Nah… apabila Reinhard Reni dibunuh karena mengetahui persis pelanggaran dilakukan pasangan calon bupati-wakil bupati yang diunggulkan dalam Pilkada MTB, apakah Panwaslih NAD akan membunuh keberanian masyarakat yang melaporkan adanya pelanggaran Pilkada? Sikap ini perlu ditanyakan kembali pada Panwaslih.

Bila merujuk pada aturan, Panwaslih mempunyai dasar hukum kuat untuk melakukan penindakan pelanggaran pada pelaksanaan Pilkada. Untuk masalah satu ini, telah diatur secara rinci dalam undang-undang Nomor 32 tahun 2004. Memang, tanpa limitasi, pelanggaran pidana Pilkada berpotensi berlarut-larut. Kondisi ini akan menjadi masalah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah.

Pandangan yang harus disimak adalah limitasi itu tidak mungkin diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP). Sebab, kekuatannya lebih rendah dari undang-undang.

Untuk hal ini, mungkin kita bisa mencontoh pada negara lain: ada Undang-undang khusus Pemilu dan Undang-undang mengenai pidana pemilu. Tapi, apabila ketentuan yang telah ada di Indonesia ini tetap dipertahankan, bisa jadi berakibat sama dengan Pemilu 1999. Akibat tidak adanya limitasi, penanganan pelanggaran pidana Pemilu masih ada permohonan kasasi hingga kini belum diputuskan oleh Mahkamah Agung (MA).

Tentunya, masalah ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Konon, Pilkada kali ini telah memberikan pendidikan politik bagi masyarakat. Terutama menyangkut pelanggaran. Masyarakat tak tinggal diam. Mereka berani melaporkan ke pihak berwenang, setelah melihat kecurangan di lapangan. Tentunya, kita tidak ingin masyarakat mengambil tindakan sendiri, sebelum Panwaslih menentukan sikap. Mudah-mudahan, aksi “main hakim sendiri” tidak terjadi pada Pilkada di Aceh ini!

Azwani Awi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: