Senyum Setelah Dua Tahun

TGK. Abdurrahman Al Turky terduduk lesu di sudut Dinas Sumber Daya Air Nanggroe Aceh Darussalam. Bahunya luruh. Wajahnya piuh. Sorot matanya tajam menerawang ke depan. Dia berhasrat melepaskan lelah di mushalla instansi itu. Namun, kakinya tak kuasa lagi melangkah. Sekujur tubuhnya kaku; lunglai lantaran sebelumnya mengelilingi kantor Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh dan Nias.

Selama dua hari penuh, ia mencoba mengetuk pintu-pintu di ruangan BRR NAD-Nias. Peluh bercucuran membasahi wajah dan pakaian dikenakannya. Sol sepatu pria berusia 45 tahun itu hampir lekang dari tumitnya, hanya untuk mendapatkan kepastian tentang proposal rekonstruksi pesantren yang pernah ia ajukan pada lembaga setingkat menteri itu.

Dawiyah (dayah—red) Ie Gleep Kulee yang ia pimpin rusak parah diterjang tsunami, dua tahun silam. Dua gedung berkontruksi beton di kompleks pesantren yang terletak di Kecamatan Batee, Pidie, itu ambruk diguncang gempa berkekuatan 8,9 skala richter. Tiga dari tujuh bilik utama lembaga pendidikan agama itu hancur dihantam tsunami. Puluhan kitab kuning hanyut. Diperkirakan, pondok pesantren itu mengalami kerugian mencapai Rp300 juta lebih.

Tgk. Abdurrahman tidak putus asa akibat bencana itu. Ia mencoba menyusun kembali puing reruntuhan menjadi tempat pendidikan darurat. Upaya pembenahan ulang itu dilakukan dengan cara bahu-membahu bersama masyarakat. Mulai dari pengumpulan dana dari desa-desa tetangga, sumbangan wali santri, hingga penggusaha tambak dan pelaut setempat.

Dari keseluruhan sumbangan yang terkumpul, pengurus dawiyah hanya mampu merekonstruksi bilik penganjian dari bahan bambu dan kayu sampingan. Tujuannya, agar masyarakat setempat dan santri dari berbagai daerah, dapat menimba ilmu agama di dayah yang berjarak 200 meter dari pesisir pantai barat Pidie itu, meski harus “berlayar dengan perahu bocor”.

Antusias masyarakat dan minat belajar yang tinggi dari 500-an santri, membuat Tgk. Abdurrahman “putar kepala” untuk membangun kembali bilik-bilik pengajian di Pesantren Ie Gleep Kulee.

Ia mencoba memasukkan proposal permohonan bantuan pembangunannya ke BRR, dua bulan pascatsunami. Hingga kini, upaya itu telah tiga kali dilakukannya. Namun, proposal diajukan Tgk. Abdurrahman tidaklah mudah mendapat tempat di meja pejabat terkait. Hingga Rabu lalu, penelusurannya mentok tanpa kepastian. Mungkin—saat itu—dalam benak Tgk. Abdurrahman, “Proposal yang ia ajukan hanya singgah sesaat di meja BRR, kemudian jadi pembungkus bahan dapur di pasar pagi.”

Dalam kepenatan, “hembusan angin” mengayunkan langkah kakinya ke Gedung Pena Raja. Di dapur redaksi itu, ia menceritakan perjuangannya untuk memperoleh empati lembaga donor, merekonstruksi Pesantren Ie Gleep Kulee.

“Hampir 500-an santri di dawiyah kami terlantar. Mereka tak dapat melanjutkan pengajian. Tetapi, kami tidak mendapatkan bantuan, sedangkan banyak sarana ibadah tidak berimbas bencana, mendapatkan bantuan BRR,” keluh Tgk. Abdurrahman.

Usai menceritakan keluh kesahnya, redaksi mencoba mengonfirmasi masalah ini pada Juru Bicara BRR Tuwanku Mirza Kumala melalui telepon selular.

Saat menggambarkan kronologis kegigihan tokoh ulama Pidie ini memperjuangkan rekonstruksi pesantren, Mirza terenyuh mendengarkan pengaduan publik yang permohonannya “dipetieskan” lembaga itu.

Mirza ingin mendengarkan langsung suara rakyat dari bawah. Menurut dia, bagaimana pun BRR tidak luput dari kekhilapan karena luasnya daerah Aceh. “Tolong sambungkan saya dengan Tgk. Abdurrahman. Saya ingin bicara langsung dengan beliau,” ujar Mirza dari seberang telepon.

Sesaat kemudian, terjalin komunikasi—dalam bahasa daerah—dari Banda Aceh ke Jakarta melalui udara. Usai perbincangan itu, Tgk. Abdurrahman menceritakan hasil pembicaraannya dengan Mirza. “Pak Tuwanku (Mirza—red) meminta saya melampirkan ulang proposal dawiyah dan masjid di kecamatan kami,” ujarnya, dengan hati berbunga.

Kali ini, dia merasa yakin pembangunan pasantren dipimpinnya dan satu unit Masjid di pesisir pantai itu, akan segera rampung. Dari mulutnya, tak henti terucap, “Alhamdulillah… Alhamdulillah….

Perjuangan panjang dan berliku Tgk. Abdurrahman telah memancarkan titik terang. Namun, bukan berarti dia harus terus berada dalam penantian. Tgk. Abdurrahman Al Turky merupakan potret korban tsunami yang tidak tersentuh proses rekonstruksi. Mungkin—masih banyak—Abdurrahman-Abdurrahman lain mengalami hal sama. Kepedulian semua pihak, dapat segera mewujudkan obsesi religiusnya.

Azwani Awi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: