Tragedi Rama Usik Damai

RABU (9/12/2006) dini hari, Bripda Rama Arga Estrada, 26 tahun, sedang melaksanakan tugas jaga bersama sembilan personel polisi lain di Dirlantas Polda NAD, Jalan Teuku Umar, Lamteumen, Kecamatan Banda Raya, Banda Aceh. Enam personel di pos penjagaan, dua di kamar, dua berada mushalla, empat lainnya di Pos PJR. Sementara Rama bersama Bripka Sudianto mandapat tugas di bangku teras.

Tiba-tiba, muncul seorang mendekati mereka. Orang itu “menyiramkan” peluru ke petugas yang berjaga malam itu. Penembak cepat menghilang, setelah memastikan dua sasarannya tak berkutik. Kepanikan pun melanda. Rama tewas di tempat. Sementara Sudianto, kritis.

Peristiwa tragis ini adalah insiden penembakan ke sekian kalinya yang menyerang polisi, sejak ditandatanganinya perjanjian damai antara RI dan GAM di Helsinki, 1,4 tahun lalu. Setelah Pilkada, kejadian itu merupakan yang pertama.

Insiden ini masuk kategoti salah satu yang terbesar dalam sejarah. Sebelum penembakan itu, memang sering terjadinya sejumlah insiden. Seperti pencegatan mobil penumpang di jalan raya oleh orang-orang tak dikenal. Lalu, perampokan dan perampasan sepeda motor oleh beberapa orang. Penyekapan tim sukses calon gubernur. Bahkan, ada pemukulan terhadap warga, dan beberapa insiden lain.

Akan tetapi, rangkaian kejadian itu dipandang sebagai riak-riak kecil saja. Karena situasi umum di Aceh menggambarkan konsentrasi tinggi dari berbagai pihak, untuk memperhatahankan perdamaian yang telah dibubul kian rapi. Substansinya, berbagai pihak bahu-membahu menyelamatkan perdamaian dimaksud.

Kejadian menimpa Rama memang begitu tragis: menewaskan prajurit polisi dan menghancurkan pondasi perdamaian. Kehancuran hati, kehilangan, dan penderitaan, tentu dirasakan oleh keluarga korban. Begitu kejam tak terperi, menyayat luka; meyatimkan seorang anak berusia tiga tahun.

Tentunya, peristiwa itu tak luput dari rekaman dunia, yang menjadi saksi proses perdamaian di Aceh. Padahal, pasca-MoU, di kalangan masyarakat Aceh, permusuhan dan perbedaan politik, turut musnah disapu angin kedamaian.

Tak ada lagi urusan pro-Indonesia atau pro-Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Sebab, semuanya telah disatukan dalam penderitaan selama puluhan tahun. Tak ada lagi permusuhan. Semuanya sirna bersama kenangan penderitaan.

Kini, pertaruhan baru muncul. Bukan oleh yang mereka anggap musuh selama ini. Melainkan musuh baru yang mendadak muncul: orang tak dikenal yang tidak menginginkan Aceh damai, seperti pelaku penembakan Bripda Rama Arga Estrada.

Kenyataan baru ini membuktikan pada kita, perdamaian di Aceh, sebagaimana perdamaian di seluruh dunia, adalah mungkin, dan tidak musykil. Permusuhan dan ketegangan sebetulnya bisa diatasi. Orang-orang bisa bekerja sama dan hidup berdampingan. Bahkan, bahu membahu secara normal.

Perbedaan politik, juga di kalangan masyarakat Indonesia di luar Aceh, sebetulnya tidak penting, bisa disingkirkan. Intinya, kita bisa hidup normal sebagaimana layaknya umat manusia: tanpa permusuhan, tanpa kebencian, tanpa dendam. Tak perlu juga hadir pihak lain yang memperkeruh perdamaian.

Kita tahu, akan selalu ada sejumlah kecil orang yang melihat perdamaian sebagai ancaman, yang ingin terus memelihara ketegangan dan merawat permusuhan. Sebagaimana orang-orang yang melepaskan tembakan terhadap polisi di Lamteumen. Akan tetapi, kita tak boleh menjadikan aksi para pengecut itu sebagai alasan untuk ikut menjegal kejernihan perdamaian.

Enyahkan segala perbedaan, kubur permusuhan. Inilah yang harus ditanamkan di Aceh. Bila kita melepaskannya, kita mengkhianati rakyat Aceh, dan mengkhianati perjanjian damai!

Azwani Awi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: