Bom Waktu bagi PAN

BOM waktu itu mulai berdetak. Kencang. Mengitari pusarannya. Mendebarkan hati kader Partai Amanat Nasional (PAN) Bireuen. Getarannya… menggoyangkan kekokohan partai berlambang matahari itu. Bukan hanya di Bireuen, tetapi juga di Aceh. Getaran itu kian menghentak setelah salah satu kader terbaiknya, yang telah mengabdi sejak partai ditukangi Amien Rais itu berdiri, mengundurkan diri dari keanggotaannya.

Kisruh di PAN Bireuen mulai beriak pasca-Musda kedua, setelah H. Subarni terpilih secara aklamasi memimpin kembali partai itu periode 2006-2011. Usai perhelatan itu, “wajah” Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Nanggroe Aceh Darussalam, “muram”. Pengurus di tingkat provinsi itu seakan tak rela tokoh masyarakat Bireuen ini memimpin kembali partai itu di Kota Juang. Surat Keputusan (SK)-nya pun ditahan. Bahkan, hingga empat bulan Musda berakhir, belum ada surat—pengangkatan—dikirimkan oleh DPW.

Padahal, menurut ketentuan di partai itu, SK pengangkan sudah dikeluarkan maksimal 15 hari setelah hasil Musda dikirimkan. Akan tetapi, setelah Subarni dinyatakan terpilih secara aklamasi dalam Musda II PAN Bireuen, 6 Agustus lalu, belum secarik kertas pengangkatan pun diterima DPD PAN Bireuen.

“Dia menyatakan kepada kami, mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Ketua Umum PAN Bireuen sekaligus dari keanggotaan PAN. Itu mutlak keputusan pribadinya, tanpa paksaan dari pihak-pihak lain,” ujar H. Dahlan M. Syah, anggota DPRD dari PAN Bireuen.

Tentunya, pengunduran diri Subarni merupakan tamparan berat bagi kader ditinggalkannya. Konon, jerih payah dan kharismanya memimpin partai itu, berhasil membawa PAN unggul mendapatkan kursi terbanyak di DPRD Bireuen. Partai “matahari” di Bireuen, satu-satunya yang sukses mencuri simpati—dominan—masyarakat, sehingga mencapai posisi puncak.

Kesuksesan itu erat kaitannya dengan ketokohan H. Subar, pengusaha yang dikenal dermawan. Sejak ia mundur, banyak pihak yang memprediksikan kecemerlangan partai itu di Bireuen akan redup. Sinar matahari yang dipancarkannya akan suram.

“Sebagai pengurus partai, kami merasa ini adalah masa-masa paling suram. Padahal, kami semua masih bangga karena berada di lini terdepan pada perolehan suara Pemilu 2004 lalu. Semua itu mendominasi karena perjuangan H. Subarni. Tetapi, mengapa sekarang DPW melupakan itu?” keluh Ridwan Khalid, Ketua DPD PAN Bireuen.

Apakah PAN bergantung pada kharisma Subarni? Memang tidak sepenuhnya. Tetapi, peran tokoh dalam sebuah partai politik sangat menentukan. “Apalagi ke depan akan ada partai lokal. Tentunya, akan banyak tokoh bermunculan. Karena itu, menjual tokoh sangat menentukan,” imbuh Ridwan di Banda Aceh.

Pengunduran diri tokoh masyarakat Bireuen itu, mengundang sorotan negatif tentang konflik kepentingan di tubuh partai itu. Beberapa kader mengindikasikan H. Subarni mengambil sikap mundur dari keluarga besar PAN lantaran merasa tidak dihargai oleh DPW. Dia dianggap tidak diterima oleh pengurus wilayah partai itu karena dianggap DPW mendukung rivalnya pada Musda lalu.

“Padahal, PAN Bireuen besar karena sosok H. Subar yang telah berurat-berakar hingga ke semua lapisan masyarakat,” ujar Ir. Saifuddin, MH. Dia pun memprediksi hal sama: akan berkurangnya simpati masyarakat setempat kepada PAN periode mendatang.

Penahanan SK kepemimpinan DPD-PAN Bireuen oleh pihak DPW dinilai Saifuddin sebagai suatu bentuk sikap khianat oleh kader-kader tertentu. Seharusnya, sikap teguh pendirian seorang kader partai seperti H. Subarni patut dihormati oleh seluruh jajaran PAN.

Pengunduran diri H. Subar, menunjukkan langkah tegasnya terhadap sikap pengurus DPW PAN. Sebelumnya, Subar telah menyatakan kepada kader PAN dan kerabatnya, dia akan mengundurkan diri bila sampai 1 Januari 2007, DPW PAN tidak mengeluarkan SK kepemimpinannya untuk lima tahun mendatang. “Sekarang, sikap itu telah ditunjukkan untuk membuktikan komitmennya. Ini sebagai bukti bahwa dia tidak asal mengancam,” tandas Dahlan M. Syah.

Beberapa kader PAN menyatakan telah melihat langsung tembusan surat pengunduran diri H. Subarni. Surat pernyataan pengunduran diri itu pakan lalu telah dikirim kepada pengurus DPW dan DPP PAN.

Dizalimi
Kader PAN di DPD PAN Bireuen merasa sikap diambil H. Subar karena merasa dizalimi oleh oknum di DPW. Padahal, sejak partai itu merangkak, Subar telah menunjukkan dedikasi dan pengorbanan yang luar biasa untuk membesarkan “matahari” itu. Namun, “Dia dizalimi segelintir orang yang mengusung kepentingan individu. Kami sangat sayangkan pengunduran dirinya. Apa dikata, dia juga manusia, memiliki batas-batas kesabaran. Kami tentu akan merasa bagai anak ayam kehilangan induk,” ujar Ridwan Khalid.

Sikap DPW dinilai Ridwan mencirikan sifat kekanak-kanakan. Ridwan mengaku shock ketika menerima informasi pengunduran diri tokoh panutan itu, meski sebelumnya sudah pernah mendengar rencana pengunduran diri Subar bila DPW-PAN NAD tak mengeluarkan SK kepengurusan baru.

Ditundanya secara terus-menerus surat keputusan (SK) kepemimpinan DPD PAN Bireuen oleh DPW, menurut Ridwan, sama artinya pengurus PAN wilayah tak membutuhkan lagi Subarni yang telah membesarkan partai.

“Saya menilai DPW-PAN NAD telah bersikap tidak profesional karena tidak menempatkan AD/ART sebagai dasar hukum partai. Ini karena besarnya kepentingan individu dan mengabaikan kader terbaiknya,” imbuh Ridwan.

Hengkangnya sosok pengusaha kharismatik itu dari tubuh PAN, diprediksikan DPP maupun DPW PAN, tidak lagi bisa berharap memperoleh suara mayoritas di Bireuen.

Hingga berita ini ditulis, Rajapost belum mendapat kepastian apakah Subar tetap pada tekad semula untuk mencalonkan diri sebagai bupati setempat periode mendatang. Namun, sumber terkekad Rajapost mengungkapkan, “H. Subar tetap maju bila diinginkan oleh masyarakat Bireuen.” Sayangnya, sumber itu tidak berani menyebutkan apakah Subar maju melalui kenderaan politik partai, atau melalui jalur independen.

Pengurus DPW PAN NAD menampik tudingan yang ditembakkan kepada mereka. Menurut mereka, DPW telah beritikad baik untuk menyelesaikan permasalahan di DPD PAN Bireuen.

Konon pasca-Musda, tujuh Dewan Pimpinan Cabang (DPC) setempat mengajukan gugatan terhadap pelaksanaan Musda. Laporan dari tujuh DPC ke DPW PAN NAD, proses pelaksanaan Musda melanggar konstituen partai. “Pemimpin sidangnya pegawai negeri, bagaimana Musda itu bisa dikatakan legitimate (sah)?” demikian komplain dari DPC dimaksud.

“Memang benar, secara Undang-undang hal itu sudah melanggar. Bila dibenarkan, itu akan menjadi persoalan bagi PAN ke depan. Tetapi, secara politis kami memahami hal itu. Kami pun sudah mencoba menawarkan solusi agar kedua kubu bertikai di DPD Bireuen dapat menerima,” kata Tarmidinsyah Abubakar, SE, Sekretaris Jendral (Sekjen) DPW PAN NAD.

Solusi dimaksud Tarmidinsyah, menetapkan formatur dari kedua kubu, yakni kubu Subarni empat orang dan kubu Munawar empat personel. Setelah formatur terbentuk, pada pelaksanaanya tim dari Munawar tidak pernah diajak menyusun kepengurusan.

“Padahal itu sudah disetujui sebelumnya. Tetapi, tidak dilaksanakan sebagaimana kesepakatan. Karena itu, tujuh DPC mengajukan keberatan dan mengancam akan keluar dari keanggotaan PAN,” ujar Tarmidinsyah.

Selain itu, agar sengketa di Bireuen bisa diselesaikan, DPW pun sempat membentuk tim. Tim tersebut terdiri dari enam anggota. Tim dimaksud bertujuan untuk menyeselaikan tarik ulur kepentingan di DPD PAN. Tim itu dijadwalkan mulai bekerja pasca-Pilkada, agar tidak terganggu konsentrasi partai memenangkan pasangan Azwar Abubakar-Nasir Jamil.

Tarmidin menilai keputusan H. Subarni mengundurkan diri dilandasi sikap emosional. Namun demikian, DPW tetap menghargai sikap Subar. “Itu hak dia. Kami tetap menghargai.”

***

Kejadian itu telah mencoreng arang pada wajah PAN: menghalalkan segala macam cara untuk meraih tampuk kepemimpinan partai yang mengklaim dirinya bersih itu. Sikap DPW menengahi sengketa di tubuh partai merupakan sikap positif. Tujuannya untuk menyatukan kepingan-kepingan panji yang mulai retak.

Namun, pernyataan Ridwan tentang pentingnya tokoh dalam sebuah partai patut direnungkan. Apalagi bila melihat riwayat partai itu besar karena ketokohan Amien Rais. Di Aceh juga demikian, nama partai ini besar karena Farhan Hamid. Begitu juga di Sabang, karismatik H. Rizani mampu menyelami hati masyarakat. Tentunya, faktor tokoh sangat dominan untuk merebut simpati rakyat mendatang.

Andai kekhawatiran kader PAN Bireuen terbukti, bayang-bayang suram kecemerlangan partai ini diproyeksikan sirna, seiring lentera partai itu hengkang dari kepompong politiknya. Bila hal itu terjadi, cahaya matahari PAN kian beringsut seiring bom waktu yang terus berdetak.

AZWANI AWI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: