Sapi Setengah Hati

PASCATSUNAMI dan konflik, banyak pihak mengulurkan tangannya; membantu masyarakat Aceh. Aliran bantuan bak air deras mencari muara. Ada yang ikhlas demi kepentingan umat, ada juga yang membantu setengah hati.

Tengoklah bantuan sapi yang diterima masyarakat masyarakat eksodus di Aceh Tengah. Lembu yang diberikan oleh Dinas Sosial (Dinsos) Aceh pun tak jauh beda dengan bayi di bawah lima tahun (Balita) yang terserang gizi buruk. Ternak besar tersebut terlihat lemas, mencret-mencret, mata berair, tulang iga menonjol, dan sakit-sakitan.

80 dari 3.052 ekor lembu untuk warga eksodus di 14 kecamatan di Aceh Tengah, itu rata-rata bermasalah. Sisanya belum sampai. Sebagian besar, lembu mati setelah beberapa hari sampai di tangan penerima.

Warga panik. Apalagi, lembu mereka terima, kondisinya kurus dan sakit-sakitan. Anehnya, beberapa di antara lembu ditengarai tidak bisa melihat. Lembu Sirwandi dari Desa Sintep, sama. Diterima 17 Januari. Pasca kedatangan, tak seujung rumput pun dimakannya. Alhasil, lembu tersebut tewas seketika.

Selain dugaan lembunya “kurang gizi”, di Sintep ada lembu bantuan yang sakit dengan lidah menjulur. Penerima bantuan sudah melaporkan permasalahannya pada pendamping program. Hingga kini, mereka tidak mengetahui apakah lembu yang mati bakal diganti.

Penemuan beberapa pakar, banyak penyakit lembu yang terdeteksi. Seperti penyakit kuku dan mulut (PMK), serta sapi gila. Virus yang menyebar di tubuh sapi, bisa seketika terjangkit pada manusia. Biasanya, virus tersebut tidak mati meskipun sudah dipanaskan 120 derajat. Karena itu, masyarakat harus waspada saat mengonsumsi daging. Terlebih daging-daging sapi ilegal.

Para peneliti di Indonesia juga menganjurkan agar masyarakat menjauhi daging sapi India dan sapi Amerika. Sebab, daging sapi tersebut rentan terjangkit penyakit. Bila mau mengonsumsi daging, dianjurkan membeli daging lokal atau yang diizinkan untuk diimpor. Seperti daging dari Australia atau Selandia Baru.

Lalu bagaimana dengan sapi yang dihibahkan bagi warga eksodus di Aceh Tengah? Bila merunut dari jenisnya, sapi tersebut berasal dari India, meski dalam berita acaranya disebutkan berasal dari Sumatera Barat.

Akan tetapi, terlepas dari mana asal lembu bantuan itu, pihak penyalur (Dinsos Aceh) tampak tidak selektif. Mereka juga seperti tidak menguasai topografi alam yang cocok untuk hewan ternak tersebut. Kuat dugaan, kemungkinan besar Dinsos Aceh tidak menggunakan tenaga ahli dalam penyaluran bantuan dimaksud.

Bantuan memang perlu untuk korban konflik dan tsunami. Konon lagi, melihat kondisi Aceh keinian. Tentunya, masyarakat sangat butuh uluran tangan dari berbagai pihak. Akan tetapi, bantuan itu seharusnya berkualitas; tidak asal-asalan; bukan untuk pamer. Dan, yang paling penting, memberikan bantuan harus ikhlas; tidak setengah hati, hanya untuk mengejar target program kerja.

Azwani Awi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: