Aide-de-camp Miliarder

BAYANGKAN, seorang ajudan bekas Penjabat Bupati Nagan Raya, memiliki uang sebesar Rp10 miliar. Tentu, ini di luar kebiasaan. Bukan iri, bukan apa-apa. Secara logika, mustahil uang sebanyak itu bisa dikantongi pegawai honorer setingkat ajudan. Kecuali mendapat warisan atau menang undian mendadak; lotere.

Dari data dihimpun, Said Jamalul Quris, 30 tahun, sang ajudan, meniti karir dari operator komputer. Said adalah honorer. Gajinya bermain di angka Rp300 ribu. Hokinya berbinar. Said resmi jadi pengawal bupati. Ia jongos paling mujur dalam sejarah para ajudan.

Buktinya, belum genap empat tahun Said menjadi ajudan, empat rekening bank bernilai Rp10 miliar dikantonginya.

Apa lacur, Said gegabah; keburu nafsu; bermaksud mencicipi duit itu. Di sebuah bank—di Medan—dia mendebet Rp5 miliar. Pihak Bank curiga. Polisi menangkap Said. Kasus money laundry menghempas sang pengawal bupati ke gelapnya penjara.

Kasus money laundry barang baru di Aceh, juga negeri ini. Kasus langsung ditangani Mabes Polri. Bukan apa-apa. Setingkat Polda NAD saja belum punya satuan menangani kejahatan kerah putih jenis itu. Money Laundry; pidana.

Di balik Said, tudingan mengalir ke arah pejabat teras di daerah itu. DPRD menuduh pejabat dimaksud melegalkan aksi Said. Ada indikasi uang itu digunakan untuk kepentingan politik.

Said dan bekas majikannya T. Zulkarnaen masih tenang-tenang saja. Legislatif setempat membentuk Pansus menelisik aksi itu. Nagan bakal ‘’panas’’.

Bayangkan, uang sebanyak itu bisa membangun berapa puluh sekolah? Nagan Raya masih terpuruk. Pendidikannya berada di titik nadir; mengkhawatirkan. Yang terjadi, uang itu dengan enaknya mendekam di balik saku Said. Miris kedengarannya. Lebih kejam lagi, uang itu diduga bersumber dari kas Nagan Raya.

Kisah Said pasti tertabal dalam sejarah kelam Nagan. Said; aide-de-camp (ajudan) mujur dan korup. Sayang, kemujuran dan kebahagiaannya, malah memboyong rakyat Nagan pada kepedihan; dananya dikorup. Alhasil, Said kena batunya. Meringkuk di penjara.

Tentunya, masyarakat Aceh, terutama Nagan Raya, menginginkan agar masalah ini diusut tuntas. Mereka tidak ingin, pengacara hebat, yang pintar bersilat lidah; jago memelintir pasal-pasal hukum, berpeluang meloloskan tersangka dari jeratan hukum dengan gampang. Sehingga, mereka tetap bisa menikmati harta kekayaan haram itu.

Kita masih menggantungkan harapan kepada aparat hukum, menjadi instrumen pembersih. Kita pernah membayangkan, begitu komisi terpadu tindak pidana korupsi dibentuk oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, penangkapan besar-besaran terhadap para koruptor segera dilakukan. Akan tetapi segera banyak yang kecewa.

Karena itu, kepada penegak hukum yang menangani kasus pencucian uang bisa segera menindak tegas pelakunya. Sekaligus membongkar dalang intelektual di balik kasus ini. Dan, kepada pelaku, kita sampaikan ucapan ini: Semoga Anda menikmati hari-hari yang pasti berselimut dekam bui. Bangsa ini memang tak pernah serius untuk membersihkan dirinya sendiri. Dan, itulah yang menjadi sumber kemenangan rakyat, dari Rp10 miliar yang Anda tilep.

Wahai Aide-de-camp miliarder, bersiap dan bicaralah. Siapa majikan Anda?

Azwani Awi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: