Budaya Catut Nama

TAK jelas siapa yang menyaru di balik topeng ‘mengkambinghitamkan’ nama seseorang. Kali ini, sebuah trend unik terjadi di Aceh. Sebuah nama dianggap keramat, digunakan pihak-pihak tak bertanggung jawab untuk kepentingan pribadi. Pelaku lihai memilih institusi, pejabat, atau lembaga. Korban dibuat ‘keder’ tak bersuara.

Sebulan terakhir, saat musim pelelangan proyek dimulai, nama Komite Peralihan Aceh (KPA) marak dicatut pihak-pihak tertentu. Sofyan Daud, petinggi KPA ‘berang’. Irwandi Yusuf, Gubernur Aceh, minta kepolisian mengusut tuntas permasalahan itu.

Sejumlah kelompok atau perorangan mendatangi beberapa instansi. Mereka memaksa penyerahan sejumlah proyek. Mereka mengaku sebagai petinggi KPA. Ancaman dilontarkan pelaku. Pihak korban memilih diam. Aksi catut mencatut nama KPA, sepertinya mulus.

Ketika proses pelelangan berlangsung, ada pihak lain mencoba menyerobot proyek tanpa lelang. Mereka ada yang mengancam dan menakuti korban. Pemenang lelang tender dan pemimpin proyek (Pimpro), pusing. Mereka diam-diam memberanikan diri melaporkan ke polisi.

Sejumlah kasus pencatutan nama KPA mulai ditangani petugas. Polisi menangkap pelaku dan mengembangkan kasusnya. Akan tetapi, bagaimana nasib intimidasi dengan short massage services (SMS)?

Menjelang pelantikan Gubernur Aceh, 8 Februari 2007, nama baik Irwandi-Nazar hampir tercemar. Mereka dicatut aktor-aktor tak terdeteksi. Entah dari ”isme” atau golongan mana. Alurnya mengalir manis, semanis pengharapan perolehannya.

Pencatutan nama Gubernur dan wakil gubernur terpilih Aceh, itu dilakukan melalui pesan singkat. SMS mengalir ke beberapa handphone kolega. Orang yang bakal memimpin Aceh itupun mengumumkan via SMS, mereka tidak pernah memperkenankan siapapun menggalang dana untuk pelantikan Gubernur dan Wagub.

Tak hanya mereka. Kasus serupa sebelumnya pernah terjadi. Saat nama penguasa darurat militer daerah (PDMD) “keramat”, ada pihak-pihak tertentu mencatut Endang Suwarya. Gubernur Abdullah Puteh, Kajati Andi Amir Ahmad, pejabat-pejabat bupati di Aceh, juga pernah dicatut namanya.

Laporan ke pihak kepolisian pun menumpuk. Aparat belum menemukan titik terang siapa dalangnya. Alasan polisi karena nomor handphone pelaku bukan dari daerah tersebut. Apalagi, kata polisi, sekarang ini nomor Hp dapat diganti semudah membalikkan telapak tangan.

Anehnya, pihak petinggi polisi pun tak luput dari modus operandi penipuan seperti itu. Seperti bekas Kapolresta Bandaaceh Eko Daniyanto, Kapolres Aceh Tengah Moch. Noor Y. Menurut aparat hukum itu, pelaku mengetahui seluk-beluk pribadi orang yang mereka catut. Berbagai alasan dikemukakan pelaku: mulai dari penggalangan dana, uang pelicin, biaya men-86-kan kasus, penggolan proyek tertentu, dan masih banyak lagi.

Pelaku sepertinya terorganisir karena mereka lihai mengolah kata mengelabui korbannya. Banyak pihak menilai, pencatutan bisa sukses karena sudah jamak jika orang penting, minta sumbangan kanan-kiri.

Misalnya, di kalangan bisnis dan birokrasi sudah biasa kalau orang yang punya kedudukan “minta tolong”. Lebih tepatnya nodong. Mau pesta angkat mantu, kontak kanan-kiri. Anak mau pesta ulang tahun, cukup “pemberitahuan” sama pengusaha. Biasa itu, kata sejumlah pihak.

Pastinya ‘kipasan angin’ berkedok pertolongan itu, menggoyang nama baik sejumlah pihak. Tak pelak lagi, catut mencatut nama “keramat” menjadi marak. Pelaku sepertinya “menari di atas kesusahan orang”. Terbayang derita dan kekesalan sejumlah korban. Manusia ‘bertopeng’ tukang catut beralih dari satu korban ke korban lainnya. Tujuan mereka satu: uang!

‘Gagal satu tumbuh seribu’ sepertinya pepatah tersebut dipegang para pelaku memangsa korbannya. Faktanya modus catut tak pernah sepi dari layar fragmen kehidupan di Indonesia, apalagi Aceh. Di manakah hati nurani pelaku? Mungkinkah mencatut menjadi profesi mereka memberikan nafkah untuk anak istri? Kasihan…!

Azwani Awi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: