Elegi Guru Meregang Nyawa

MEDIO 2007, Aceh kembali berduka. Dunia pendidikan getir. Bukan karena minimnya kelulusan ujian nasional (UN). Kedamaian di Bumi Rencong seakan ternoda oleh tinta hitam pembantaian guru. Sadis. Tak jelas motif di balik itu. Alasan diutarakan pelaku tak mampu dicerna logika. Pastinya, peristiwa itu memilukan semua pihak.

Mungkin, keluarga korban tak menyangka bakal melepaskan kepergian Amiruddin Sulaiman (42), secara tragis. Apalagi, guru SDN Kumba, Kecamatan Bandardua, Pidie Jaya, itu tewas saat perjalanan pulang meunaikan salat magrib di meunasah terdekat. Sekujur tubuhnya, terdapat luka bacokan secara membabibuta. Ekseksusi itu terjadi di depan anak korban.

Peristiwa itu menggegerkan Desa Jeulanga Barat, Ulee Gle. Awalnya, Sabtu (16/6/2007), Amiruddin berpamitan kepada keluarganya ke meunasah. Rutinitas itu biasa dia lakukan setiap petang. Keluarganya pun tak menemukan tanda-tanda Amiruddin akan meregang nyawa secara tragis. Dia bersama buah hatinya pun melaju ke rumah ibadah terdekat.

Tahapan salat ia ikuti penuh. Usai salat, berhasrat kembali ke rumah. Amiruddin menempuh jalur sama. Naas bagi dia, sekitar pukul 19.30 WIB, seorang pemuda mencegat Amiruddin. Tanpa pertanyaan, Amiruddin dieksekusi di depan anaknya.

Serangan kilat dan beruntun membuat Amiruddin tak bisa membela diri. Dia hanya bisa berteriak, ”Tolong… tolong..,” teriaknya sambil menyelamatkan diri. Akhirnya, korban tak berdaya. Dia bergeming. Dalam kondisi kritis itu, pelaku kian bringas; meluapkan ambisinya untuk menghabisi korban. Setelah korban benar-benar tak berkutik, tubuhnya dicampakkan ke saluran air pinggiran jalan kabupaten Alue Keutapang Kumba.

Setelah Amiruddin tewas, puluhan penduduk mendatangi lokasi. Warga mengevakuasi jenaah ke rumah duka. Satu setengah jam kemudian, polisi dari Polres Pidie serta Polsek Bandardua tiba di rumah tersebut. Tapi, polisi tak menemukan apa pun malam itu. Masyarakat setempat bungkam saat ditanyai kronologis tewasnya anak delapan putra itu. Kabut ”misterius” menjadi PR bagi polisi menyingkap tirai pembunuhan ini.

Barulah empat hari kemudian, polisi dari resot pidie menyibak tabir misteri itu. Pada Rabu (20/6/2007) polisi mengamankan dua tersangka ikut membantu pelaku menghilangkan nyawa guru tersebut. Kedua pelaku itu MS (20) dan NU (25). Sementara HU (22) keburu melarikan diri setelah kejahatannya terendus polisi. Semuanya penduduk Ulim.

Untung bagi polisi, perangkat desa setempat mau buka mulut. Warga pun melaporkan ke polisi guna membantu membuka tabir ini. Cara pengaduannya pun lain; unik. Warga tidak langsung menyampaikan pesan tersebut ke polisi. Akan tetapi, menulis pesan pada selembar kertas.

Mungkinkah warga setempat mendapat ancaman dari pelaku? Pastinya, polisi pun tak mau membeberkan identitas pelapor. Indikasi terancam juga tersirat dari pernyataan Kapolres Pidie, “Warga tidak perlu takut memberikan keterangan pada penyidik, agar pelakunya bisa tertangkap, agar kasus serupa tidak terjadi lagi. Saya, maupun masyarakat secara universal menginginkan kemungkaran dilenyapkan di bumi ini. Makanya saya harapkan peran aktif masyarakat dalam menuntaskan setiap kasus, sangat diperlukan polisi,” demikian AKBP Dedy Setyo Yudo Pranoto.

Pada kertas tersebut, saksi menuliskan ia mengenal wajah pelakunya. Saat peristiwa itu, saksi melintasi lokasi kejadian dan melihat langsung tragedi memilukan itu. Bahkan, saat eksekusi pembunuhan berlangsung, salah satu dari tiga pelaku sempat memerintahkan “Jangan lepaskan dia.”

Ada hal aneh terekam dari peristiwa itu. Dua tersangka mengaku membunuh Amirudin terpaut santet (guna guna) dilakukan korban terhadap keluarga pelaku. Sebuah alasan yang sulit dicerna logika, tentunya.

Sebenarnya, ini lingkaran persoalan diperburuk kemerosotan toleransi di masyarakat. Warga makin miskin dalam bertoleransi; terbiasa tidak memberi izin pada perbedaan. Terbiasa menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan permasalahan.

Tahun lalu, di wilayah hukum Bireuen, juga terjadi kasus pembantaian sekeluarga pendidik. Ridwan M Taher (42), guru SMP Cot Rabo, Saudah M Taher (40), dan Riski Nafitri (9), dibantai. Mayat tiga orang sekeluarga ini ditemukan di pinggiran tambak Pulo Naleung, Kecamatan Peusangan, Bireuen, sekira pukul 23.30 WIB, Minggu (7/5/2006).

Ayah, ibu, dan anak ini juga dibunuh secara sadis; mengenaskan. Tubuh ketiganya penuh luka bekas bacokan dan sayatan benda tajam. Munawir, anak Ridwan, selamat dari pembantaian itu. Ia sengaja ditinggalkan pembunuh di pinggiran tambak. Munawir menjadi saksi hidup ketika ayah, ibu, dan kakak kandungnya dibunuh di depan dua matanya.

Saat itu, Ridwan Thaher bersama keluarganya baru pulang dari acara tahlilan di rumah familinya di Cot Tarom Baroh, Kecamatan Jeumpa. Korban mengendarai sepeda motor Astrea BL 3118 KC, bermaksud kembali ke rumahnya di Pulo Naleung. Tapi, sebelum tiba di rumah, Ridwan Taher dibantai. Tak ada yang bisa memastikan motif pembantaian sekeluarga itu.

Tiga korban terkapar berlumuran darah. Munawir, korban selamat, tergelak di samping ibunya. “Seorang warga mendengar tangisan Munawir dari arah tambak itu. Setelah dicari, tiga mayat ditemukan bersimbah darah,” kata Zainuddin, abang kandung korban.

Sekretaris Desa (Sekdes) Pulo Naleung Adwani Isa mengaku baru mengetahui kejadian itu setelah menerima laporan masyarakat, sekira pukul 01.20 WIB. Tiga korban pembantaian itu dijemput keluarga terdekat dan dibawa ke rumah sakit untuk divisum. Kasus itu dilaporkan ke Mapolsek Peusangan pukul 04.30 WIB.

Adwani Isa mengaku tidak tahu persis kronologis pembunuhan itu. Menurutnya, selama ini keluarga itu terlihat baik dan sering menolong warga sekitar. Bahkan, selama ini Ridwan taher dipercayakan warga mengutip rekening listrik di Pulo Naleung.

Pembunuhan ini menyisakan teka-teki besar. Jelas pelakunya bukan Munawir karena bocah itu masih berusia lima tahun. Siapa Pelakunya?

Polres Bireuen–saat itu–mendapat PR besar menjawab teka-teki pembunuhan Ridwan M Taher sekeluarga. Namun, layar kriminal itu belum tersibak. Padahal, enam saksi sudah diinterogasi polisi, yakni Sekretaris Desa Pulo Naleung Adwani Isa, Muzakir (kepala dusun), Tajuddin, M Daud Syam, Mawardi Ismail, dan Rusdi.

Saat itu, polisi memburu pelaku. Bahkan, sampai sekarang pun masih memburu. Polisi menduga pelakunya lebih satu orang. Sepertinya, pembunuhan ini salah sasaran. Pembunuh berjalan kaki sebelum beraksi.

Siapa pun akan pilu hatinya mendengar dua kasus pembantaian guru ini. Semua pihak masyarakat; kepala desa; camat, kapolsek; danramil; kapolres; bahkan presiden sekalipun dapat menyelesaikan persoalan dengan jernih, tanpa perlu merasa tertekan. Semua pihak menumpukan harapan; semua pihak bisa menjalankan fungsinya sebagai pengayom. Bukan menjadi alat pembunuh seseorang karena desakan curiga.

Kedua kasus pembantaian guru itu sadis. Sangat tidak manusiawi. Secara sepihak, mungkin masyarakat menganggap duka pembantaian sadis ini hanya tersisa bagi keluarga korban, dan si bocah malang menyaksikan kedua ayahnya dibantai. Tapi, sebenarnya, pembantaian itu luka untuk Aceh; luka untuk perdamaian. Pembantaian ini ibarat menorehkan cuka di atas sebuah bekas sayatan pisau di jari kita; pedih; masih ada pembunuhan di tengah perdamaian. Kali ini, masyarakat, polisi, atau siapapu, harus jadi “perban“; membalut luka pembantaian ini.

Azwani Awi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: