Keliru dari Paripurna

MULAN Kwok, vokalis Ratu, pelantun Lagu “Teman Tapi Mesra”, pernah keseleo menyebut nama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. “Yang saya hormati Bapak Bambang Susilo Yudhoyono,” kata Mulan dari panggung acara, sesaat sebelum tampil di depan presiden. Para tamu terperangah. Mulan pun ‘digiring’ turun panggung oleh Paspampres. Mulan apes: terbalik mengeja urutan nama presiden.

Keliru—sesuatu terjadi di luar kesengajaan—adalah sifat dasar manusia. Tapi, sangat sulit dipahami jika kesengajaan dipelintir menjadi kekeliruan. Perilaku ini sudah ‘melazim’ dalam tatanan masyarakat kita. Menjadi tradisi.

Tak ayal, keliru itu merambat ke gedung legislatif Aceh. Awal 2007, “penghuni” gedung wakil rakyat itu “disusupi” mosi tak percaya. Gedung parlemen di Jalan Tgk Daud Beureueh, Banda Aceh “panas”. Dewan ribut sesamanya. Ribut diam-diam sambil diam. Untung saja, tak ada tinju melayang.

Kisruh bermula dari rancang-merancang tata tertib (Tatib) Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA). Sebuah lembaga donor—Partnership For Governance Reform (PFGR) atau Kemitraan—membantu merakit Tatib.

Awalnya, rancangan Tatib dianggap sukses. Tapi ketika dipublikasikan, keributan pun merebak. 23 anggota dewan melempar mosi tak percaya kepada pimpinan dewan. Sebabnya, pengakuan tak setuju isi pasal 134 Tatib baru itu.

Tatib yang terpublikasi lebih condong mendiktatorkan pimpinan dewan. Isi Tatib juga krusial: tentang dana. Uang, jelas sumber keributan. Penentuan APBD harus sepengetahuan legislatif, bukan sepihak saja. Karena sebagai uang publik, APBD tetap harus dipantau publik.

Waisul Qarany, Wakil Ketua DPRA tak setuju. Dia menganggap Sayed Fuad Zakaria, Ketua Dewan, ditumbalkan mafia politik DPRA. Mosi berisi tuntutan: Sayed diminta memakzulkan diri. Sayed tentu ogah diminta mundur. Dia akan menyelidiki. Menurutnya, Tatib sudah sesuai. Jika ada pihak tak senang terhadap Tatib itu, tak lebih sebagai kepentingan politis belaka.

Kemitraan, adem ayem melihat “bara” membakar paripurna. Padahal, sadar atau tidak, mereka melempar “bola panas” ke gedung dewan. Walau, kata Eka Oktavianus, sang Project Leader, mereka tak mau masuk ke zona polemik.

Tatib itu seakan dipaksakan; prematur dipertontonkan; tak sempurna siap. Jamal Yunus kena getahnya. Eka menuding Jamal meminta Tatib dipublikasi di media. Jamal membantah. Kerahnya merasa “dicekik” Eka.

Sebagai legislatif, dewan masih lemah. “Gawang” mereka “kebobolan” gol politik pecah belah ala PFGR; devide et impera. Curiga masih tersangkut rapi di balik jas. Tapi, siapa sadar? Badan Kehormatan Dewan (BKD) seharusnya lebih jeli “mengintip” mosi-mosian itu. Termasuk juga tingkah PFGR. Jika ada salah, koreksi segera.

Kemitraan juga dipandang masih punya “dosa”. Civil Society Organization (CSO) Aceh menilai lembaga ini jauh dari mereka. Kalangan CSO melihat PFGR “mengobrak-abrik” DPRA. Mereka merasa lembaga donor itu harus dievaluasi. Padahal, apa salahnya PFGR mengajak CSO lokal berbarengan mengonsepkan good governance.

Tapi, PFGR seperti mencokok dewan menuruti maunya. Bisa saja karena gengsi: lembaga donor, sih. Karena isi kocek dari kantong mereka, bisa berbuat semau gue.

Ditohok begitu, PFGR lenggang kangkung. Merasa punya kedekatan dengan petinggi negara selevel staf ahli presiden, mereka melenggang santai mengisap tembakau dalam-dalam. Seharusnya, mereka bertanggung jawab meluruskan simpul benang basah itu. Kini, AC pun makin tak dingin di gedung dewan. Harap pertama: PFGR jadi TTM atau Teman Tapi Mesra. Apa lacur, mereka berubah jadi TTP alias Teman Tapi Preman. Oh, malang nian nasibmu Dewan….

Azwani Awi

Satu Tanggapan to “Keliru dari Paripurna”

  1. hehehe…

    kita semua kawan, tak perlu berprasangka yg tidak-tidak
    apalagi men-judge sesuatu yang tak kau ketahui
    🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: