Komporomi Nyawa

KOMPROMI itu gampang; mudah. Praktiknya tidak terlalu sulit. Tinggal nyatakan keinginan, negosiasi; bergaining power, meja perundingan pun ditinggalkan; “bubar”. Sepintas, kompromi terlihat cerdas dan berani mengambil keputusan. Tapi, mengambil inisiatif kompromi yang gampang-gampang memang sulit. Lebih banyak kegagalan daripada menyelesaikan persoalan secara benar.

Konon bila melaksanakan kompromi dengan nada ancaman. Tujuannya meraih keuntungan pribadi, mengacuhkan kerugian pihak lain. Itu namanya pemerasan!

Misal, sekelompok orang suatu malam lakukan kegiatan melanggar hukum; mencuri; merampok; berjudi; dan mengganggu wanita melintasi tempat mangkalnya. Berhasil; aman. Pada malam lain, langkah sama dilakukan. Masih sama: aman.

Malam itu persoalan selesai, tapi pada malam berikutnya terulang lagi. Kompromi tak lagi menjadi senjata ampuh. Cara lain, mencari jalan agar mereka bisa memuluskan modus operandinya. Praktiknya meningkat. Meminta sejumlah uang dengan ancaman nyawa melayang. Malam berikutnya, warga kampung bersama aparat kemanan memergoki kegiatan mereka. Tertangkap basah. Langkah selanjutnya, borgol mengikat tangan mereka.

Cara tiga pemuda mengatasi negosiasi dengan Drs. Zulkifli Zainon, Walikota Langsa terpilih, mirip “sekelompok orang” pada analogi di atas. Mencari cara mudah untuk kompromi. Lalu mengumpat-umpat seperti cacing kepanasan; menghabisi nyawa keluarga Zulkifli Zainon.

Caranya pun gampang. Hanya berbekal dua peluru dikirim lewat amplop. Pengirim surat meminta uang dalam jumlah bombastis: Rp50 juta. “Kalau Zulkifli tak menggubris, keselamatan keluarga akan keselamatannya tidak terjamin,” begitu bunyi ancaman pemeras tersebut.

Aksi pertama tak mendapat tanggapan. Surat berikutnya menyusul. Isinya: Pak Zul, segera telepon kami ke nomor 081389459970. Kalau tidak telepon selama 24 jam, jangan salahkan kami kalau nantinya menimpa sesuatu atas keluarga kamu.” Zulkifli galau. Dia melapor polisi. Skenario peneyergapan dirancang. Aksi dimulai.

Kesepakatan dibubul. Aparat gabungan Intelkam, Resmob, dan anggota Polsek Langsa Timur bergerak ke lokasi: Desa Seuneubok Punti—perbatasan Kota Langsa dan Aceh Tamiang. Dialog di lokasi memancing tersangka.

Sekira pukul 22.00 wib, Kamis (15/2/2007) pekan lalu, tersangka Bukhari, 22 tahun, warga Matang Seulimen, Kecamatan Langsa Kota, Syamsidar, 22 tahun, dan Yusra, 20 tahun, penduduk Kuala Beukah, Kecamatan Peureulak Kota, mengambil bungkusan uang gadungan. “Polisi yang sudah siaga, menangkap tiga tersangka selesai berdialog,” kata Kasat Reskrim Iptu Burhanuddin, Selasa (20/2/2007).

Kontan, ketiga tersangka bergeming. Kompromi tidak berhasil dilaksanakan. Fenomena tersebut merupakan praktik gambling pemeras. Mereka kurang lihai mainkan peranan: menunggu uang diletakkan, ibarat penerima jadup mengantri jatah.

Alangkah baiknya masalah ini diatasi; dicegah, agar tidak timbul lagi kasus serupa di kemudian hari. Masalah seperti itu, tentu melahirkan pelbagai masalah lain: runtuhnya institusi moral pemuda, melahirkan insan tidak bernorma, rendah akhlak, dan banyak lagi kesan buruk akibat perbuatan itu.

Bukan hanya polisi, masyarakat pun harus ambil bagian mengatasi hal ini. Betul kata Bang Napi, kejahatan terjadi bukan karena niat pelakunya. Akan tetapi juga ada kesempatan. Waspadalah, bung…!

Azwani Awi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: