Menakar Ibadah dan Usia Manusia

WAKTU adalah uang. Petuah itu merupakan peringatan kepada setiap manusia, akan pentingnya waktu. Lalu, sejauh manakah selama ini manusia menghargai waktu?

Motinggo Busye, dalam cerita pendek (cerpen)-nya berjudul “Nasihat untuk Anakku”, juga menyampaikan pesan moralnya. Dalam cerpen tersebut, dia mengisahkan tentang pentingnya waktu melalui sebuah dialog khusus dengan sahabatnya.

Isi pesan itu adalah “Seandainya saya mempunyai banyak uang, saya akan membelikan berjuta-juta arloji, untuk saya bagikan kepada seluruh sahabat, teman-teman saya, dan setiap orang di dunia ini.” Lalu, teman dialognya tersebut bertanya, “Untuk apa arloji sebanyak itu?” Motinggo menjawab “Agar seluruh manusia di muka bumi ini mengetahui makna waktu, dan kerugian-kerugian yang telah dialaminya setiap detik berlalu.”

Rekaman percakapan dalam cerpen tersebut memberikan penyadaran pada setiap manusia di muka bumi ini, akan pentingnya pemanfaatan waktu dari setiap detik menjelma menit, dan berlalu ke jam. Demikian seterusnya. Berhasilkah manusia melewati putaran jarum jam, dengan melakukan hal-hal bermanfaat?

Manfaat utama waktu adalah untuk mengukur distribusi normal manusia, hingga ia meninggal dunia (taksiran dalam tahun). Sebelum melangkah ke perhitungan, perlu diketahui dulu jumlah detik, menit, jam, hari, minggu, dan bulan dalam satu tahun.

Bila satu hari dihitung 24 jam, maka dalam satu tahun terdapat 12 bulan, 52 minggu, 365 hari, 8.760 jam, 525.600 menit, dan 31.536.000 detik. Untuk taksiran chart (grafik perbandingan)-nya, dapat diambil angka rata-rata usia kehidupan manusia. Mayoritas manusia meninggal dunia antara usia 60-70 tahun. Bila dipukul rata, manusia meninggal saat berusia 65 tahun. Beruntung yang diberikan umur panjang dan dimanfaatkan sisa umurnya.

Sementara untuk permulaan seseorang diperhitungkan amal baik atau buruknya selama hidup di dunia, diukur dari usia saat seseorang balighnya. Usia Baligh laki-laki yakni 15 tahun. Sementara wanita saat berusia 12 tahun.

Nah… untuk menghitung usia tersisa yang dipakai beribadah kepada Allah swt, diambil rata-rata dengan rumus: MATI-BALIGH = sisa USIA..? yakni 65-15= 50 tahun.

Selama 50 tahun itulah manusia berkativitas. Dia mulai beribadah, bekerja, bermain, rileks atau refreshing. Cara perhitungannya, terlebih dahulu dipisahkan waktu siang dan malam. Dalam artian, waktu kerja saat siang dan waktu istirahat pada malam hari. Atau sebaliknya.

Waktu yang berputar pada porosnya selama satu hari satu malam yakni 24 jam. Berarti, perputaran bumi 12 jam siang dan 12 jam malam. Setelah mendapatkan kepastian angka tersebut, barulah kemudian menelaah setiap waktu yang digunakan oleh manusia di muka bumi, dalam jumlah rata-rata.

Biasanya, manusia tidur selama tidur selama delapan jam perhari. Dalam 50 tahun, waktu yang habis dipakai untuk tidur adalah 18250 hari x 8 jam= 146.000 jam=16 tahun. Sisa tujuh bulan dibulatkan menjadi jadi 17 tahun.

Logikanya, selama seumur hidup, waktu yang digunakan manusia untuk tidur yakni 17 tahun. Alangkah sayangnya. Padahal, saat ajal menjemput, manusia akan tertidur dari dunia untuk selamanya.

Lebih bermasalah lagi, bagi mereka yang mengidap penyakit tukang molor (‘tumor’). Bisa jadi, waktu 12 jam perhari dihabiskan untuk tidur. Bila dikalkulasikan dalam jumlah tahun, manusia yang mengidap ‘tumor’ tersebut akan menghabiskan waktu 25 tahun untuk tidur. Jumlah ini sama dengan setengah dari perjalanan hidupnya.

Sementara untuk aktivitas, umumnya manusia menjalankan rutinitas pada siang hari. Berarti, waktu aktivitas adalah 12 jam. Dalam 50 tahun, waktu yang habis dipakai aktivitas untuk beraktivitas: 18.250 hari x 12 jam = 219.000 jam. Jumlah ini setara dengan 25 tahun.

Aktivitas siang hari itu juga terbagi lagi dalam beberapa hal. Ada yang bekerja, atau bercinta. Ada yang belajar atau mengajar. Ada yang sekolah atau kuliah. Ada yang makan sambil jalan-jalan. Ada pula yang gambling (berjudi) sambil maling. Dan, masih banyak lagi aktivitas lainnya yang tak pernah bisa disamaratakan satu dengan yang lain.

Selain itu, waktu aktivitas santai atau rileksasi selama 4 jam. Dalam 50 tahun, waktu yang dipakai rileksasi 18.250 hari x 4 jam = 73.000 jam. Jadi, dengan hitungan dimaksud, waktu yang digunakan untuk rileksasi adalah delapan tahun.

Rileksasi itu biasanya direalisasikan dengan nonton TV sambil minum kopi. Ada pula yang belajar mati-matian, bikin contekan habis-habisan buat ujian, atau mungkin dihabiskan termenung dibuai khayalan.

***

Dari jumlah yang telah dikalkulasikan tersebut, yakni 17 tahun + 25 tahun + 8 tahun = 50 tahun plus plos/balance tidur, ngelembur, menganggur.

Bila waktu yang kita gunakan untuk tidur, aktivitas, dan rileksasi selama 50 tahun, muncul pertanyaan yang sangat sakral, “kapan Ibadahnya?”

Padahal, manusia diciptakan oleh Allah hanyalah beribadah kepada-Nya. Karena—satu hal yang pasti—manusia akan kembali ke alam hakiki Illahi.
Konon, maut datang menjemput tak pernah bersahut. Malaikat datang menuntut untuk merenggut. Manusia tak kuasa untuk berbicara. Tuhan Maha kuasa atas surga dan neraka.

Memang benar! kuliah itu ibadah, kalau mahasiswa berniat untuk ibadah. Apalagi, kuliah itu untuk mencari ijazah, bakal nanti bekerja agar mudah mencari nafkah?

Benar juga. Mencari nafkah itu ibadah, tapi bekerja yang bagaimana? Apalagi manusia sekarang ini—dalam bekerja—bekerja sikut sana-sikut sini; Banting tulang, banting orang; Tujuan utama mencari uang buat beli barang-barang biar dipandang orang.

Jarang manusia di muka bumi ini, menolak untuk dipuji dan dipuja, tatkala mereka berjaya. Pernah seseorang membaca bismillah saat hendak berangkat kuliah, tapi sekadar pernah.

Pernah seseorang berniat mulia saat hendak mencari nafkah, tapi semuanya terlupa ketika melihat gemerlapnya dunia.

***

Lalu kapan ibadahnya? Bagi sebagian orang, salat lima waktu itu dianggap cukup. Karena mereka pikir, salat begitu besar pahalanya. Salat amalan yang dihisab paling pertama. Salat adalah jalan membuka pintu surga. Kenapa harus cukup bila melaksanakan ibadah hanya berdasarkan salat?

Berapa lama manusia salat selama kurun waktu 50 tahun? 1 kali salat = 10 menit? Sementara sehari semalam 5 kali salat. Berarti, dalam satu putaran hari, 1 jam digunakan untuk ibadah. Dalam waktu 50 tahun, waktu terpakai untuk salat adalah 18.250 hari x 1 jam = 18.250 jam. Ini berarti, waktu yang dimanfaatkan manusia dalam 50 tahun di dunia, cuma dua tahun untuk salat. Ini dengan asumsi semua salat yang dilaksanakan diterima oleh Allah swt. Lalu, bagaimana bila salat dimaksud belum tentu berpahala dan Diterima?

Sekiranya pun salat selama dua tahun berpahala, rasanya tidak sebanding dengan perbuatan dosa-dosa yang dilakukan selama 50 tahun: Dalam ucapan selalu dusta, baik yang terasa maupun yang disengaja; dalam ucapan selalu cerca terhadap orangtua, dalam harta kaya yang selalu kikir terhadap orang faqir; dalam setiap laku langkah selalu bergelimang dosa.

***

Bukan satu yang tidak mungkin bila umat di akhir zaman, akan berhamburan di neraka untuk mendapatkan balasan kelalaian. Terlalu banyak waktu yang terbuang percuma selama manusia hidup di dunia dan semuanya itu akan menjadi bencana.

Tiada kata terlambat walaupun waktu bergulir cepat, isilah dengan sesuatu pekerjaan bermanfaat. Jangan di tunda-tunda lagi. Ingat! malaikat maut akan datang kepada siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Akhirat adalah tujuan terakhir manusia. Apakah setiap insan di muka bumi ini siap menyambut malaikat maut kapan saja dan di mana saja? Cermin diri, tanyakan pada hati nurani.

AZWANI AWI

2 Tanggapan to “Menakar Ibadah dan Usia Manusia”

  1. Yandi Firdaus Says:

    tulisannya bagus…saya share di facebook yah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: