Perburuan Jodoh nan Kocak

Film Get Merried

Jenis Film Drama/Comedy-Remaja (Teenage); Pemain Nirina, Ringgo Agus Rahman, Desta ‘Club Eighties’, Aming, Meriam Bellina, Jaja Miharja, Ingrid Widjanarko; Sutradara Hanung Bramantyo; Skenario Musfar Yasin; Produser Chand Parwez Shervia; Produksi Starvision; Durasi 105 Menit

MAE (Nirina Zubir), Guntoro (Desta `Club Eighties’), Eman (Aming), dan Beni (Ringgo Agus Rahman) adalah empat sahabat karib. Mereka selalu bersama-sama sejak kecil. Semuanya lahir di kampung sama dan hari sama. Mereka kompak. Keempatnya mengaku orang yang paling frustasi di Indonesia. Pasalnya, cita-cita keempatnya pupus karena mengikuti keinginan orang tua.

Pak Mardi (Jaja Miharja) dan Bu Mardi (Meriam Bellina), orang tua Mae, berusaha mencarikan jodoh untuk anaknya. Mereka menempuh segala macam cara. Termasuk ke dukun–cabul.

Tak berhasil juga, orang tua Mae melakukan perjodohan. Layaknya sayembara, Mae diperkenalkan dengan beberapa pemuda. Sepertinya, orang tua Mae terpengaruh dengan kisah Siti Nurbaya. Akan tetapi, untuk menghindari sikap kasar Mae, perjodohan pun dirancang ala modern.

Mae diperkenalkan dengan beberapa pemuda. Akhirnya, Mae bertemu dengan Rendy (Richard Kevin), konglomerat yang keren.

Rendy merasa bosan pacaran dengan cewek-cewek gedongan. Ia menjelajahi berbagai tempat untuk mencari suasana baru dalam pacaran. Alhasil, Rendy menjumpai Mae setelah dapat kabar dari teman-temannya.

Setelah melihat Mae, Rendy pun jatuh cinta! Ternyata, cinta Rendy tak bertepuk sebelah tangan. Mae juga jatuh cinta kepada Rendy. Tapi, percintaan mereka tak berlangsung lama.

Rendy mengundurkan diri setelah dihajar teman-teman akrab Mae. Penyebabnya hanya salah paham. Kabar itu pun terdengar ke telingan Mae. Dia menangis. Hatinya sangat kecewa akibat tingkah laku ketiga sahabatnya tadi.

Tapi, cinta yang kandas tak membawa dampak buruk pada kehidupan Mae dan persahabatan keempatnya. Malah, imbasnya dirasakan Bu Mardi. Ibunya Mae sakit keras akibat kegagalan perjodohan itu. Saking derasnya keinginan melihat anaknya bersanding di pelaminan, Bu Mardi pun mengeluarkan ancaman “Kalau nanti ibu mati sementara Mae belum dapat jodoh, Ibu akan mati penasaran.”

Mendengar perkataan ibunya, Mae kaget bukan kepalang. Dia tampak kelimpungan. Ia pun berusaha keras untuk dapat memenuhi permintaan Bu Mardi. Akhirnya, Mae memutuskan harus kawin dengan salah seorang dari tiga sahabatnya itu.

Penentuan calon suaminya pun dilakukan dengan cara unik. Mae mengundi siapa yang bakal mendampingi hidupnya. Setelah berkali-kali diundi, jatuhlah pilihan pada Beni. Dia harus mengawini Mae.

Eh, kabar tentang Mae mendapatkan pendamping hidup ini membuat Bu Mardi sembuh total. Penyakitnya telah pergi jauh bersamaan jatuhnya undian tersebut. Tanggal pernikahan pun ditentukan. Setelah menemukan tanggal tepat, akhirnya Mae dan Beni melangsungkan resepsi pernikahan.

Tak taunya, pada hari resepsi dimaksud, Rendy dan ganknya datang ke kampung itu. Mereka hendak menghajar ketiga sahabat Mae, dengan membumihanguskan kampung itu.

Masalahnya, Rendy merasa geram. Masa, dia sebagai anak elit dihajar dan dipermalukan anak kampung Mae. Tawuran pun tak terelakkan. Kaum elit dan orang-orang di kampung Mae saling adu jotos untuk mempertahankan harga diri. Kedua kubu tampak brutal.

Karena mendengar informasi akan ada penyerangan ke kampung Mae, para tamu dan calon pengantin pria pergi membela kampungnya. Akan tetapi, Mae dan Rendy kaget ketika mengetahui `jagoan’ elit dan kampung bertarung.

Akhirnya, kedua belah pihak bermusyawarah. Mereka berhasil membubul kesepakatan. Siapakah yang menjadi pengantin pria? Eh, jangan keterusan. Penasaran, ya?

Drama percintaan remaja dalam film ini kian menggelitik. Sebab, Hanung Bramantyo, sang sutradara, membalut kisah cinta dan persahabatan keempat pemuda dengan bumbu-bumbu kocak. Sikap solidaritas dan persaudaan ditampilkan dengan khas kehidupan kampung. Bosannya, adegan perkelahian terlalu lama ditayangkan. Tapi, perkelahian pun tampak kocak akibat ulah empat pemeran dalam film ini.

Azwani Awi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: