Seks Buta

SEKS, kadang membuat orang salah menempati: arti; sikap; perbuatan. Seks hanya dipergunakan untuk pemuas nafsu (birahi). Banyak orang salah menafsirkan; menempatkan posisi seks hingga tergiur rayuan setan. Meski kita akui seks memanglah faktor kebutuhan manusia, banyak orang menjadikan seks sebagai kesenangan; mainan; dan sekadar iseng tanpa mempertimbangkan akibatnya.

Padahal, di balik kesenangan itu, pasangan seks menuai masalah baru. Ibarat keluar dari mulut buaya, masuk ke mulut harimau. Awalnya mereka mengahadapi persoalan pencegahan kehamilan. Masalah lebih besar lagi bakal menyusul: HIV, pembuangan bayi, dan sebagainya; imbas perbuatan tidak bermoral: pergaulan bebas.

Seperti kejadian di Jurusen, Kecamatan Pegasing, Aceh Tengah. Warga setempat dikejutkan dengan penemuan mayat bayi perempuan. Mayat tersebut ditemukan seorang pelajar penduduk Jurusen, Senin (12/3/2007) siang, saat pelajar itu sedang mandi di Krueng Peusangan.

Peristiwa itu membuat sontak seluruh warga kampung. Kabar penemuan mayat bayi tersebut langsung beredar dari mulut ke mulut. Tak berapa lama, warga setempat memadati bantaran Krueng Peusangan.

Kondisinya mulai membusuk. Sekujur tubuhnya dipenuhi memar. Warga menduga, jenazah bayi itu lama mengalami benturan batu di sepanjang Sungai Peusangan.

Mayat bayi tersebut disinyalir hasil hubungan di luar nikah. Tali pusar bayi tersebut masih utuh. Warga setempat langsung mengeksekusi jenazah bayi itu. Masyarakat menguburkan bayi itu secara lazim. Dr. Maulida, Kepala Puskesmas Pegasing, menduga mayat bayi perempuan itu dibuang lebih kurang delapan jam sebelum ditemukan warga Jurusen.

Entah apa terbersit dalam pikiran orang tua bayi itu, sehingga ia tega membuang bayi tanpa dosa itu. Durjana; Bejat; Sadis; Nista.

Menurut beberapa psikolog, ada dua faktor melatarbelakangi seseorang melakukan tindakan itu. Aib karena ketahuan melakukan kegiatan haram dan himpitan ekonomi. Faktor pertama lebih dominan. Mereka hanya rela meneguk kenikmatan dari hubungan setannya, kemudian malu dan membuang barang bukti: anak.

Begitulah nasib satu nyawa tidak berdosa. Padahal, dia tidak diminta dilahirkan demikian. Dibuang bagaikan sampah atau najis. Dia bagaikan mangsa nafsu serakah dari perbuatan durjana manusia. Terlepas ibu dan ayah tidak bertanggungjawab, kondisi seperti ini dapat dikatakan kelahiran bayi itu tidak diinginkan dari kehamilan yang tidak dirancang.

Perlu diingat, anak tidak menanggung dosa ibu dan bapaknya. Maka janganlah dibuang bayi tidak berdosa itu. Bagi mereka telah silap dalam mengambil tindakan, tidak disalahkan bila mereka menerima kembali anak itu.

Menurut catatan, Komisi Nasional Perlindungan Anak telah beberapa kali melaporkan dugaan pembuangan bayi ke polisi. Salah satunya dugaan pembuangan bayi ke septitank di lokasi Panti Wanita Hamil dan Bayi Terlantar Yayasan Ibu Sury.

Fenomena membuang bayi dan pengguguran haram bisa dikatakan meningkat dari tahun ke tahun. Tahun lau, di Banda Aceh terjadi enam kasus pembuangan bayi.

Alangkah baiknya masalah ini diatasi; dicegah, agar tidak timbul lagi kasus serupa di kemudian hari. Sebab, masalah seperti itu, tentu melahirkan pelbagai masalah lain. Bukan sekadar pembuangan bayi dan jangkitan HIV, runtuhnya institusi keluarga, melahirkan insan tidak bermoral, rendah akhlak, dan banyak lagi kesan buruknya akibat perbuatan itu. Seks memang buta: membuat orang gelap mata meneguk kenikmatannya. Manusia terbuai. Suka.

Siapa sangka, anak yang Anda buang itu menjadi kepala desa, camat, bupati, gubernur, menteri, atau presiden. Tentu harapan-harapan itu bakal terjadi. Renungkanlah…!

Azwani Awi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: