Tak Ada Opsi

SEBULAN terakhir, kepolisian Aceh disibukkan kasus ganja (Cannabis Sativa/ Cannabis Indica). Di Bireuen, puluhan hektare digerebek. Di Aceh Tengah, 245 kilogram ganja kering dimusnahkan. Di Aceh Besar, 154 kilogram diamankan. Pelaku dan pemilik barang haram, kebanyakan lolos dari sergapan petugas.

Banyak pihak menilai, polisi kalah cepat dengan pelaku. Gembong ganja ditengarai berkeliaran menghirup udara bebas. Ironisnya, masyarakat menuding polisi bermain di belakang layar. Seorang teman membenarkan, tinggal telepon, barang pun tiba di tempat. Masyaallah!

Di luar Aceh, lebih “hot” lagi. Kapolsek KP3 Bakauheni, menggagalkan penyelundupan ganja seberat 715 kilogram di pelabuhan penyeberangan. Truk pengangkut kelapa sekaligus ganja kering, diamankan. Supir dan kernet digelandang ke Mapolsek setempat.

Sebagian besar pelaku tertangkap, mengaku kesulitan ekonomi pemicu mereka nekad menjadi kurir. Alasan lainnya, duit secepat kilat beralih ke dompet. Untung atau buntung hanya guratan tangan. Perut keluarga perlu di isi, kalau bukan mereka siapa peduli. Jadilah nekad!

Geli, lucu, dan aneh, kedengarannya. Tanaman sekilas pandang biasa-biasa saja itu, kerap menggegerkan. Harga lumayan mahal tetapi permintaan tak putus. Katanya, si pemakai dibuat mabuk ‘kesenangan’ pengaruh zat Tetra Hydro Cannabinol (THC). Tak ayal lagi, mafia tanaman ilegal memanfaatkan pengkategorian Aceh sebagai lahan subur menanam ganja, mengeruk keuntungan pribadi.

Alhasil tanaman memabukkan itu, tak pernah punah. Akarnya menjalar menyesakkan perkebunan, hutan, dan lahan kering di Aceh. Tumbuh di sana, subur di sini. Nyatanya bukan warisan atau penghibahan, ganja tetap merebak.

Maraknya aksi tidak membuat pihak kepolisian, Komite Peralihan Aceh (KPA), dan warga ‘bosan’ memberantas tanaman rasta ini. Tanaman ganja menjamur di tempat tak terlintas.

Pemerintah tak ambil diam. Peraturan sampai Undang-undang pelarangan ganja dan kelompoknya, dibuat. Silih berganti tersangka pemakai, pengedar, dan pemilik dijerat hukum. Kapokkah mereka? Tidak, buktinya kasus ganja termasuk rating tertinggi.

Sepertinya pihak terkait harus ‘banting tulang’ memberantas ganja sampai ke akar-akarnya. Polisi harus ‘nekad’ memutus mata rantai jalur tanaman ganja. Mungkinkah? Benak masyarakat dipenuhi tanda tanya. Masyarakat berharap generasi muda, tak menyentuh tanaman ‘mabuk kepayang’ itu. Atau semuanya sepakat bersama-sama memakan racun dan mati tak bersisa. Silakan tak ada opsi!

Azwani Awi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: