Burni yang Tercoret Kegagahan (2006 mdpl)

DI pertigaan jalan aspal itu kami berhenti; mengaso di musalla tua. “Ini pos pertama ke Burni,” sebut Iwan. Ia anak Gayo. Kampungnya di Dedalu, Takengon. Tubuhnya cungkring bak bambu kuning. Oktober tahun lalu, Iwan pernah mendaki ke Burni.

Dinding musalla yang disebut Iwan sebagai pos pertama ini penuh coretan arang. Membikin mata capek dan geram memandangnya. Isinya, nama nama orang dengan tim nya yang pernah mendaki ke situ: kampungan. Musalla tua yang seharusnya apik persis bangkai karena tulisan tulisan itu.

Di sekeliling musalla, terlihat ladang tebu dan tumbuhan lain. Angin semilir menerpa hingga ke balik punggung baju yang basah keringat. Hawa dingin menyeruak sejak tadi. Untung saja, matahari siang, 13 Februari itu, menyala terik. Kalau tidak, yang terasa cuma dingin, dingin, dan dingin.

Mencari jalur ke Burni Telong tak susah. Cukup turun di persimpangan Lampahan, Benermeriah. Dari simpang tersebut, menanjaklah melewati jalan kampung beraspal. Tak usah takut bakal bosan. Di kiri kanan jalan terlewati kebun kebun penduduk. Asri. Hijau mengelilingi mata. Sesekali terlihat bunga terompet bergelayut di samping pagar kebun.

Satu hal kecil, bagi yang alergi anjing, siap siap saja digonggong. Jangan lari, jika tak ingin digigit. Soalnya, anjing anjing itu tentu tak kenal para pendatang baru. Karena tak berani menggonggong sendiri, mereka akan mengumpulkan teman temannya dan berkoar bareng; itulah filosofi anjing.

Sebelum sampai ke musalla (Pos 1), ada baiknya melapor ke kepala desa atau geuchik setempat. Yang kami temui hari itu namanya Aman Dir, nama lengkapnya Abdul Kadir. Aman ramah menerima tim. Di kios kecil miliknya, kami menghabiskan beberapa bungkus cemilan seperti kerupuk. Maklum, lapar bos. Setelah menyerahkan surat permohonan izin pendakian, kami pun melaju ke pos 1. “Sebelum sampai di sana, bagusnya ambil air dulu di musalla sebelumnya,” saran Aman Dir. Kami pun mengiyakan.

Maka, di musalla dimaksud kami berhenti, mengeluarkan jerigen putih isi lima liter. Setelah itu kaki pun bertambah berat melangkah. Beban bertambah. Matahari kian terik. Berpeluh ria kami berjuang melewati trek aspal tersebut hingga tiba di musalla coretan arang alias pos 1.
***
Telah pukul 12.30 WIB. Kami memutuskan bergerak. Mula mula melewati kebun kopi. Setelah itu menerobos batang batang tebu tua. Seorang penduduk di kebun kopi melambaikan tangan. “Bang,” aku membalasnya. Ia tersenyum. Warga warga ramah itu sudah terbiasa melihat pendaki ke Burni.

Batang tebu terlewati, terlihat hamparan hutan. Inilah pintu rimba Burni yang gagah itu. Di sini, kami berhenti lagi. Rasanya badan makin loyo. Untung saja, semangat melihat edelwise di lereng Burni masih tersisa. Tulang lutut berderak bak engsel karatan. Kami memutuskan beristirahat sejenak. Tak ada yang protes. Inilah kesempatan mengambil nafas. Di depan, terhampar pemandangan indah, sebagian kota Benermeriah terlihat. Aku letakkan Nikon SLR di atas kerir, dan jeprett.., beberapa foto narsis tercipta.

Memasuki hutan, terlihat dua jalur; kanan dan kiri. Kami memilih kiri. Jalur kanan, kata Iwan, dirintis oleh MAPALA Edelwise, Lhokseumawe. Nantinya, jalur ini akan memutar ke areal camping sebelum lereng edelwise.

Entah karena siang, nyaris tak terdengar suara binatang kecuali teriak senyap Hylobates lar di kejauhan. Aneh, hutan selebat ini miskin fauna. Jalur kiri ini bisa dibilang sebagai jalur wisata. Lebar dan terlihat jelas. Beberapa tumbuhan khas terlihat seperti Arenga pinata. Pula, bongkol bongkol anggrek hutan yang tak berbunga. Coba kalau berbunga, tentu cantik dan liar, seperti liarnya rimba.

15 menit berjalan sembari memotret, aku berhenti. Tubuh terasa rapuh. Padahal, treknya belum terlalu terjal, masih sekira 25 hingga 30 persen derajat kemiringan. Keinginan mensurvey potensi biologi di Burni Telong terpaksa dikubur dalam. Bukan apa apa, dengan empat orang nyaris tidak ada kesempatan melakukannya. Belum lagi derak tulang bersiponggang ria di siang itu. Sebelumnya, keinginan ini diiyakan beberapa teman dari KML SAVANA. Tapi, menjelang perjalanan, satu persatu mundur dengan alasan ada pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan. Sudahlah, mencapai Burni saja kami puas.

Pelan pelan, aku berjuang sendiri. Pola berhenti setiap 15 menit kuterapkan. Kala istirahat, kesempatan kupergunakan untuk menjepret objek objek menarik. Iwan memimpin di depan. Di belakangnya menyusul Awenk, “sesepuh” yang selalu mengingatkan dirinya telah tua. “Udah tua, wak,” kerap disebutnya kalau berhenti jalan. Di bekalangkuada mike. Dia berjalan lamban. Tidak tahu maksudnya, entah capek atau ingin selalu di belakang.

Di balik kanopi pepohonan, cuaca masih cerah. Tak terlihat bakal turun hujan. Padahal, “kalau ada pendaki biasanya bakal turun hujan,” ujar Aman Dir di bawah tadi. Sedingin apa nantinya jika hujan itu datang?

Di sebuah jalur mirip tangga, Awenk berhenti, Iwan juga. “Ada orang di atas,” sebut Iwan. Kami mendongak. Di balik semak tersamar bayangan bayangan orang turun. Tapi kata Aman Dir, tak ada pendaki ke Burni pada hari itu.

Terlihat, seseorang turun. Dia memanggul senapan angin. Melihat kami, ia tersenyum. Ternyata, dia bukan pendaki. Dari “seragamnya” terlihat kalau ia pemburu burung. “Tak banyak yang dapat hari ini,” sebutnya sembari tersenyum ke kami. Ah, pantas saja burung burung itu menjauh dari Burni kalau tiap hari diburu. Dan kemiskinan fauna bakal terus terjadi di rimba Burni.

Si pemburu berlalu, kami memutuskan berhenti. Membuka ransel, mengambil beberapa coklat batangan. Setelah dua tiga teguk air melewati tenggorokan, tenaga itu seperti datang lagi. Kami memutuskan tak memasak untuk makan siang. Targetnya, harus sampai ke areal kemping sebelum usai sore.

Beberapa langkah dari tempat istirahat, kami berpapasan dengan dua pemburu lagi. Masing masing juga menyandang senapan angin. Terpaksa kami tersenyum lagi. Iwan menyapa mereka dengan Bahasa Gayo. Aku hanya melongo tak tahu artinya. Yang kutahu dari Bahasa Gayo Cuma beberapa kata yang tak patah, seperti: gere, ara, dan berijen. Kala aku meminta Iwan diajarkan Bahasa Gayo, si cungkring itu hanya tersenyum. Jika menyimak, dalam beberapa percakapan Iwan sering menyelipkan Bahasa Indonesia. Hal ini juga terjadi di Bahasa Aceh sekarang. Tak ada tutur asli yang terlalu asli.

Setelah berjuang kuat, kami sampai di areal kemping. Tempatnya berupa dataran dengan lembah di kiri kanan. Hari mulai gelap. Tenda langsung didirikan. Dan, dingin pun datang. Aku mengeluarkan jins yang dibeli di Pasar Takengon. Lalu celana parasut north face. Praktis ada tiga lapis celana. Lumayan pengusir dingin.

Mike mulai menghidupkan api, dibantu iwan. Beberapa kali hasilnya nihil, tak lama setelah hidup, api mati lagi, menyisakan asap yang memerihkan mata. Padahal, kayu kering dan api dipancing dengan karet ban plus minyak tanah. Walhasil, harus setia menjaga agar api tak mati.

Wangi margarin bercampur ikan asin membuat perut keroncongan. Setelah hampir setengah jam berjuang dengan api, hidangan istimewa ala rimba pun terhidang: mie cabe, ikan asin plus nasi. Sekejap, semuanya tandas.

Malam datang, dingin makin menjadi. Api mengecil. Perbincangan singkat dan santai memecah sunyi hutan. Aku mengambil matras dan membentangnya di depan tenda. Tak lupa membalut badan dengan sweater dan dua kaos. Lama lama, aku tertidur. Kepala masuk ke tenda, kaki menjulur ke luar. Entah beberapa menit kemudian tiba tiba aku terbangun. “Ayo kita tidur,” sebut Awenk. Jam menunjukkan angka 10. Rencananya, pukul 03.00 WIB, kami akan menuju puncak. “Wah, belum malam benar, dinginnya sudah begini,” aku membatin. Apalagi, jika dinihari nanti, tak terbayang bagaimana hawa dingin merayapi tubuh.

Api dimatikan. Lampu badai tetap dibiarkan menyala di luar. Iwan membuka kantung tidurnya, lalu dibuka seperti selimut. Kami menjadikannya penutup kaki hingga badan. Dingin makin menerjang. Terlebih di kaki. Padahal, sudah ada kaos kaki dan sepatu tebal.

Berharap mimpi tak juga datang. Sesekali aku terbangun disengat hawa dingin. Persis masuk kulkas. Di sebelahku Awenk dan Mike beringsut ke kiri dan kanan. Rupanya mereka melawan dingin yang begitu menyengat.

Jam tiga dinihari teng, alarm suara manusia dari telepon seluler Iwan membangunkan kami. Dan, bless, baru saja membuka mata, dingin makin menggila. Cepat cepat kami berbenah. Walau paru paru makin tersiksa, tak ada pilihan lain mengurangi dingin kecuali bergerak. Disepakati, hanya kamera dan sebuah daypack yang dibawa ke puncak. Isinya snack dan kopi plus nesting. Kami bertekad menikmati matahari terbit di puncak.

Bekal senter kami cuma satu. Penerangan dibantu head lamp dan dua senter mini berbaterai AAA. Lumayanlah, walau sempat melenceng sedikit dari jalur, senter senter itu sangat membantu. Beberapa menit dari tenda, jalurnya gelap ditutupi pepohonan. Nafas kian tersengal.

Dan, di tengah kesulitan bernafas, tiba tiba aku mendongak ke langit. Alamak, ada ribuan bintang bersinar di dinhari itu. Sungguh indah. Rasanya dunia begitu luas menghampar. Aku baru sadar, jalur pohon tadi sudah habis. Di depan kami, di tengah kegelapan itu, terhampar padang edelwise. Pemandangan langit membuyarkan segala capek. Mungkin bukaan ribuan tapi jutaan bintang yang terlihat. Ada beberapa rasi bintang yang juga terekam mata.

Di samar samar malam itu, aku menelisik jauh ke depan, tepatnya ke atas. Terlihat buram puncak kiri burni, bukan puncak asli. Kaki terus melangkah. Trek menanjak tanpa henti. Dipenuhi kerikil kerikil yang bisa menggelincirkan badan. Sesekali kusorot pucuk pucuk edelwise dengan senter. Andai purnama, lereng edelwise ini tentu makin menawan. Tapi, sudah cukuplah bintang tadi.

Iwan tetap memimpin di depan. Entah tersengal juga, aku tak tahu. Tapi anak Dedalu itu diam saja. Yang lain juga begitu, tak banyak cakap.

Di punggungan itu aku mencoba memotret, tapi gelap. Shit! Aku tak ahli memotret dalam gelap. Hasilnya, kabur. Wajah iwan yang memakai sebu jadi mirip panda. Ini kata Awenk. Air persediaan serasa es ketika mengalir ke tenggorokan.

Hampir dua jam bergelut di lereng edelwise, sampailah di gua batu berukuran 3 x 2 meter. Kami mengaso lagi di situ: memasak susu jahe. Ketika masuk gua, dingin hilang sekejap. Gua itu bak perawan, memberi kehangatan di dingin Burni.

Cukup lama juga menunggu air mendidih. Hingga di atas gua langit terlihat berwarna. “Cepat, kita harus ke puncak sebelum sunrise habis,” sebut Iwan. Baru keluar dari gua, terlihat corat coret lagi di batu. Persis musalla pos 1. Kalau di bawah dibuat dengan arang, di gua ini dilukis berwarna.

Bergegas kami naik. Langit makin cerah. Antara gua dengan puncak bisa ditemukan kantong semar alias Nepenthes sp. Persis di atas gua, ada kepulan asap. Itulah kawah Burni. Tak ada yang berani mendekat. Takut beracun.

Dan, betul kata Iwan, sunrise di puncak itu tak terlihat. Kami terlambat beberapa menit. Sudahlah, ketika mendengar azan dari Iwan, saya bersyukur, telah berdiri di puncak Burni Telong. Menikmati ciptaan Tuhan. Dari atas terlihat Lapangan Terbang Rambele juga asrama kompi di Lampahan, Benermeriah. Termasuk juga Kota Benermeriah. Indah, rumah rumah terlihat bagai kotak. Serasa terbang di angkasa. Di sebelah Burni, terlihat puncak Geureudong yang lebat. Tak kalah dengan Burni.

Ada ucapan yang selalu teringat ketika berada di puncak. Mendaki gunung bukanlah kegagahan. Mendaki gunung ini seperti ujian terhadap diri sendiri. Kalau ada kepuasan, tentu itu bukan kegagahan. Kata kegagahan hanya ada di kamus. Pendaki bukanlah orang orang gagah. Cuma satu yang gagah, ya gunung itu sendiri. Seperti Burni Telong. Walau ia telah tercoret kegagahan para pecinta kemping; membunuh kesepian di hari valentine.

Burni Telong, 15 Februari 2008

AZWANI AWI

Satu Tanggapan to “Burni yang Tercoret Kegagahan (2006 mdpl)”

  1. Burni telong 2600 mdpl… bukan 2006 mdpl

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: