Renungan Pilu dari Layar Bencana

Tsunami di Barat, Sutami di Timur

26 DESEMBER 2007, beranjak dari 26.280 jam lalu, wajah Aceh masih menyisakan muram. Rautnya pias saat gempa dan tsunami ‘mengoyak’ sebagian besar peta daerah itu. Kejadiannya begitu cepat; melintas dalam hitungan detik. Merenggut senyum bocah‑bocah yang bermain riang. Memupuskan seluruh impian dan asa dalam pusara waktu.

Itulah lakon yang ditayangkan dalam tsunami. Sebuah film nyata berdurasi 120 menit. Tayangan itu mengisahkan nestapa di 15 kabupaten/kota di Aceh: mayat berhimpitan, puing‑puing bangunan berserakan. 173.741 nyawa terbang ke taman surga, 75.223 mendapatkan

perawatan (data Departemen Kesehatan), 132.172 jiwa hilang, dan 420.926 jiwa mengungsi (data Bakornas PBP Posko Gempa‑Tsunami Aceh dan Sumut).

Hampir seluruh infrastuktur porak‑poranda. Aceh merupakan daerah terparah menghadapi kebringasan ombak, dibandingkan daerah lain di Sumatera maupun luar negeri seperti Thailand, Sri Lanka, India, Maladewa, dan sisi Timur Afrika.

Potret tsunami memang menyisakan kidung pilu nan berlanjut. Belum lagi lenyap kepiluan tsunami yang melanda‑mulai‑bagian barat Aceh (Meulaboh dan Banda Aceh), pada bulan sama 365 hari lalu, luapan sutami (sungai Tamiang) menghantam‑dari‑timur Aceh. Bumi Sedia Muda, menangis. Alur sutami pun meninggalkan lumpur dan kisah duka: 42 orang terenggut nyawa dari raga, 290 dinyatakan hilang tersapu air, sedangkan ribuan korban mengungsi.

Rentetan bencana dalam kurun dua tahun itu membangunkan penghuni Bumi Iskandar Muda dari tidur lelapnya. Tsunami menggetarkan pagi beranjak siang. Sementara sutami, meriakkan malam yang sunyi.

Musibah yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004 dan 23 Desember 2006, menjadi cacatan pilu di pengujung almanak. Tangan ‘takdir’ menjulur ke bumi, menyajikan cerita‑hampir‑sama. Air meluap menenggelamkan sejumlah kabupaten/kota: memuntahkan lumpur dan bebatuan. Pohon tercerabut dari akarnya, rumah penduduk lekang dari pondasinya.

Skenario kehidupan pun sama. Satu per satu ruh penghuni bumi dicabut. Nyawa meregang dari tubuh. Jiwa dibawa pergi dari planet bundar ini. Tak ada negosiasi, tak ada tawaran. Tak ada yang bisa mengajukan pledoi. Tiada pula yang mempunyai kesempatan menoleh hari esok.

Maut keburu hadir; “berselancar” bersama gulungan ombak. Kematian menjelma serentak. Takdir dan maut, hanya terpaut sejengkal di atas kepala. Hidup hanya menjadi sebuah lukisan lalu. Terpajang. Setelah itu mati.

Tsunami dan sutami hadir bak ‘monster’ ganas. Akan tetapi, sebuah perenungan membersitkan, bencana itu bukanlah suatu kemurkaan. Kedua bencana ini hanya jelmaan perjalanan hidup manusia. Bukan hanya itu, kecelakaan, sakit, serangan terotis, wabah flu burung, antraks, gempa, longsor, badai katrina, topan, dan badai rita, merupakaan episode lain dari jelmaan ujian Ilahi.
***

Kini, setelah 1.576.800 menit berlalu, Aceh berangsur pulih. Infrastruktur perlahan berdiri kembali. Kota‑kota baru tumbuh. Perkampungan pun muncul. Raut wajah penghuni yang tadinya kecut beralaskan bedak trauma, perlahan mulai hilang; senyum‑senyum simpul, perlahan mulai tampak.

Pembangunan di segala lini pun kian bangkit. Setelah 94.608.000 detik berlalu, kemajuan pemulihan kehancuran telah terbenah. Hingga akhir Oktober 2007, Pusdatin‑RAN Database‑Sektor BRR NAD‑Nias merilis 102.063 unit rumah permanen telah berdiri. Fasilitas kesehatan telah 534 unit mulai jadi. Gedung sekolah pun direkonstruksi 837 unit. Sementara 22.548 guru telah dilatih pemantapan sumber daya manusianya.

Kebutuhan pokok lainnya berupa Jalan (semua tipe) telah selesai 2.006 kilometer, jembatan 216 unit, bandar udara 10 unit, pelabuhan laut 17 unit, dan pembinaan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) 99.710 unit.

Akan tetapi, itu bukanlah hasil menggembirakan. Jumlah itu baru separuh dari kebutuhan rekonstruksi di Aceh. Segurat permasalahan kontruksi pun masih tercecer: berbagai pekerjaan rumah‑seperti di Pantai Barat‑belum selesai, infrastruktur pun belum memadai, debu masih beterbangan di jalan‑jalan utama, kontraktor menghilang, sejumlah proyek terbengkalai. Sedangkan untuk bidang pendidikan, hanya 65 persen sekolah dinyatakan rampung.

Permasalahan lainnya muncul dari sisi human interes: 5.287 kepala keluarga masih mengungsi di barak. Barak‑barak dimaksud tersebar di Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Barat, dan Sabang. Keberadaan mereka di barak seperti tak ada akhirnya. Setelah tiga tahun berlalu, penghuni juga harus tetap mendekam di bangunan panggung berukuran 4 x 4 itu. Padahal, mereka sudah harus meninggalkan barak pada Desember tahun ini.

Kasus ini terjadi karena lambannya kinerja lembaga yang mempunyai otoritas penyelesaian tsunami di Aceh. Alasannya, tim percepatan relokasi pengungsi BRR merevisi target pemindahan pengungsi. “Target yang seharusnya selesai pada Juli 2007, ternyata meleset menjadi Desember 2007. Itu setelah data pengungsi yang tinggal di barak, jauh lebih besar dari pada data BRR. Perbedaan data tersebut membuat kami merevisi target,” kata Twk Mirza Keumala, Juru Bicara BRR Aceh‑Nias, kepada wartawan beberapa hari lalu.

Permasalahan humanis lainnya, masih ada 203 anak korban tsunami, berada di luar Aceh. Mereka terpisah dari orang tuanya. Sebagian besar tersebar di sejumlah panti asuhan dan pondok pesantren, di enam provinsi di Indonesia.

Kedeputian Pendidikan, Kesehatan, dan Peran Perempuan BRR melansir, dari ke‑203 anak korban tsunami tersebut, 82 orang berada di Sumatera Utara, 23 orang di Riau, 17 orang menetap di Jakarta, 23 orang bertahan di Jawa Barat, empat orang masih menunggu di Kota Gudeg (Jogyakarta), dan 54 lainnya berada di Jawa Timur. “Usia mereka berkisar antara 10 hingga 18 tahun,” ujar Dedi Sofyan, Manajer Perlindungan Anak Kedeputian Pendidikan, Kesehatan, dan Peran Perempuan BRR NAD‑Nias.

Permasalahan ini merupakan pekerjaan rumah para pihak penanggung jawab rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh. Entah kapan semua persoalah ini akan tuntas, sementara masa kerja lembaga setingkat menteri hanya tinggal hitungan bulan.
***

Tsunami dan sutami menyerang Aceh, merupakan kemurkaan alam terhadap penjarahan anatominya. Amarah itu diwujudkan dengan kekejamannya terhadap penghuni alam. Para ahli menyebutkan, tsunami terjadi akibat patahan lempengan bumi di lautan. Sementara pemerhati lingkungan menuding, banjir dan longsor terjadi akibat ulah manusia merusak lingkungan. Mereka ‘kekeh’ mengomplain ‘pembabat hutan berdasi’ pengundang bencana. Namun, para pelaku penjarahan beranggapan banjir dan bencana adalah garisan takdir.

Dari dua kisah itu, menuntut perenungan manusia lebih seksama: Tuhan maha perkasa. Tuhan bisa menggelayutkan tangan‑Nya kapan saja, untuk memunculkan bencana di planet ini. Tentu, setiap penghuni bumi tak menginginkan semua itu bakal terulang. Paling tidak, semua yang berada di planet fana ini hanya bisa memohon, agar Tuhan tak lagi memutar “film” baru yang ‘sedarah’ dengan tsunami maupun sutami.

Azwani Awi

Satu Tanggapan to “Renungan Pilu dari Layar Bencana”

  1. enak sekali bacanya. saya sampai hanyut mengikuti alur tulisan. hebat sekali penulisnya. siapa sih anda, saya mau diskusi dan belajar lebih banyak dengan anda. success all

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: