Tigakata dari De….

SEJENAK aku tertegun. Larut dalam hening. Kupandang sekeliling, hampa. Terasa sesuatu yang kosong menyapa pagiku hari ini. Tiba tiba, aku teringat De, gadis di pesawat yang kukenal empat bulan lalu ketika ke Bali. Bayangan gadis itu melintas, dia tersenyum manis. Ada kerinduan yang mengetuk di dada setelah sebulan terakhir ini ia tak lagi berkirim kabar.

De, masih kuingat saat membisikan tigakata ke telingaku, ketika pertama kakinya menyentuh alun-alun di Bandara Iskandarmuda.

“Telepon aku, ya?” ujarnya seraya mendekatkan mulutnya ke telingaku.

Ok, I promise,” jawabku.

Ia pun berlalu. Dan aku menuju sebuah taksi.

Pertemuan itu terus berlanjut, dan kami saling membagi keluh, terutama tentang diri dan keluarganya.

Setiap pertemuan, seakan memberi inspirasi buatku. Kadang-kadang curhat kami kutuangkan dalam lirik-lirik lagu. Dan ternyata lirik itu menjadi laris, hampir menyamai rating grup band papan atas.

Thanks 4 everything, thanks. Perhaps, I Can’t be with u anymore, cannot heal your lonelines again. I go, forgive me, if this too fast, and shocking u,” sebait pesan yang dikirimnya lewat sms. Isi pesan yang mendebarkan, nyaris membuatku berselancar dalam intuisi emosi.

Berulang-ulang kubaca pesan itu. Tak juga paham hingga memutuskan untuk meneleponnya.

The number you are calling is not activ or out of coverage area. Please try again in a few minutes,” suara mesin penjawab itu seakan tak pernah lelah mengingatkanku.

Pikiranku menerawang sambil mengeja-eja isi sms De.

Aku tak paham maksudnya, dan kenapa harus pamit dengan berucap tak bisa menemani lagi kesedirianku. Kenapa harus mendadak ia pergi. Pertanyaan itu terus bergayut. Dadaku terasa sesak. Aku mungkin bersalah, sehingga ia mulai menghindar. Tapi, apa? Mungkin saja kisahnya yang kulirik dalam lagu itu.

Pagi itu aku terasa hampa, ada aroma tubuh De seperti melekat di dinding ruangku, dan kucoba runut-runut kenapa ia harus menghindar.

***

Dua bulan berlalu, hatiku kian galau. Hingga kuputuskan untuk pergi mencarinya. Aku pastikan alamat orangtuanya dari seorang teman kos De di kampung Keramat. Pukul menunjukkan angka 20.00 WIB, aku mengontak Rangga, sahabatku. Kami pun meluncur dengan mobil Nissan Teranoku.

Hampir 10 perjalanan ke Langsa, kampung orang tua De. Malam itu kami menginap di sebuah losmen, dan siangnya kutinggalkan Rangga sedirian di kamar losmen. Setelah hampir setengah jam aku menyisir alamat De. Namun, hatiku seperti terkoyak-koyak ketika di tenda tergantung apik di halaman rumah yang kutuju.

Aku berharap apa yang kuduga bukanlah De, gadisku.

“Tapi, bukankah mungkin ini makna pesan sms-nya,” gumanku.

Kalau ya, ini surprise kedua, dan aku senang kalau ia telah memilih. Tentu berharap ia bisa bahagia.

Orangtua De menyambut kehadiranku. Namun setelah kuutarakan maksud menemui De, pak Burhan dan bu Anisa, kedua orangtua De, tampak saling menatap. Suasana menjadi hening.

Ada bulir bening menetes dari kelopak perempuan separuh baya itu.

Lalu, tiba-tiba pecah menjadi tangis, hingga meruntuhkan segala ketegaran yang kumiliki, meskipun aku sendiri masih sangat bingung, apa yang terjadi dengan gadisku.

“Ia meninggal,” dua kata yang tersekak dari kerongkongan Pak Burhan setelah hampir setengah jam aku di rumah itu.

Kegetiran seperti tak bisa kusembunyikan.

“Ia bunuh diri tiga bulan lalu,” sambung Pak Burhan seperti tahu pertanyaan di hatiku.

“Dia menolak permintaan kami dengan caranya sendiri,” imbuhnya. De sebelumnya ingin dijodohkan dengan anak sepupu Pak Burhan. Dan tenda itu dibentang buat kenduri 100 hari De.

Langit seperti runtuh! Tak ada kata yang terucap, dengan langkah tak pasti aku meninggalkan rumah itu.

***

Mentari mengintip dari celah pepohonan, sepasang burung pipit berkicau sambil meliuk dari satu dahan ke dahan lain. Aku menghitung hari-hari yang kosong. Seraut wajah kutatap dalam bingkai di depan meja, wajah yang pernah membisik tigakata. Wajah yang menitip sebait pesan yang kini baru kutahu jawabnya.

“Selamat tidur panjang De, moga kamu mulia di sisi-Nya,” ucapku sambil meraih setangkai pulpen untuk meliris lagu yang tak selesai.

Azwani Awi

Cerpen dan ilustrasi ini sudah diterbitkan di Harian Serambi Indonesia, terbitan Banda Aceh, pada 27 April 2008.

Satu Tanggapan to “Tigakata dari De….”

  1. Wow… terharu sekali isi cerpennya. Kayak lagunya Padi: “Kasih tak Sampai”.
    Cuma ada tigakata yang bisa kuucapkan setelah membacacerpen ini
    “Tetaplah menjadi bintang dilangit”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: