Menangisi Hutan Aceh di Lekukan Sungai Ayung

AIR tenang menghanyutkan. Agaknya, petuah itu terpental di Sungai Ayung. Kali yang terdapat di Ubud, Bali itu “merangsang” nilai eksotisisme. Lekuk gelombang di sungai, seakan mengisyaratkan telaga itu tak ramah untuk dijelajahi. Namun, kekhawatiran tersebut segera sirna saat tim Rafting Jungle to Millenia Telkomsel, menjamah perairan sungai nan cantik itu.

Petualangan di sungai ini tergolong unik. Selama mengarungi jurang berliku, peserta rafting (arung jeram) dapat “bersenggama” dengan alam; menikmati terasiring sawah yang mengagumkan, dan hutan hujan nan indah. Berbeda dengan kondisi hutan Aceh yang telah tercabuli tangan-tangan jahil. Wartawan Serambi Indonesia, Azwani Awi, merekam jejak petualangan para jurnalis di Sumatera, dalam gairah dan tantangan kekejaman gelombang sungai terpanjang di Bali itu.

***

Tertawa, teriak, dan histeris terdengar keras mengikuti derasnya air. Wajah‑wajah pucat dan kecut, seketika berubah ceria. Rona wajah yang tertutupi keringat, terusap dengan senyuman dan tumpahan “ratapan”.

Demikian potret kegiatan rafting di Sungai Ayung. Satu petualangan berlabel Jungle to Millenia Telkomsel.

Sebelum menyentuh perahu karet, para kuli tinta harus menuruni 400 anak tangga. Tangga dimaksud merupakan pertapakan kecil yang terbuat dari beton. Perasaan jengkel, muak, letih, dan kram, berbaur saat melintasi tangga ‘ganas’ itu. Ini merupakan kekalahan awal peserta sebelum memasuki pertandingan sebenarnya.

Akan tetapi, ketika deretan anak tangga terlampaui, ketika raga masih berbalut letih, gairah lain segera muncul saat menatap puluhan perahu karet di ”bibir” sungai.

Hasrat merangkul kayuh pun segera terbersit. Setelah perahu tersebut lepas dari tambatan, para jurnalis mulai berlomba menaklukkan kebringasan Sungai Ayung. Mereka tampak geram menekukkan tubir gelombang yang curam.

Sungai Ayung bermakna sungai nan cantik. Riam sungai di Desa Petang, Sangeh, Badung, Bali ini, tampak alami; belum terjamah tangan‑tangan kotor. Di Bali, sungai ini memiliki debit air yang besar. Mengalir di pinggir timur Kabupaten Badung atau perbatasan dengan Kabupaten Gianyar. Hulu sungai berawal di sekitar Gunung Kintamani dan bermuara di Pantai Padanggalak, Sanur.

Rafting di sungai itu, pertama kali diperkenalkan oleh wisatawan. Akhir‑akhir ini, bagian barat sungai Ayung juga terdapat beberapa pengelola kegiatan rafting profesional, dilengkapi begawan‑begawan arung jeram di Bali. Salah satunya Mega Rafting—operator rafting pada kegiatan Jungle to Millenia Telkomsel.

Sebelum rafting dimulai, seluruh peserta dibekali atribut life jacket, helm, dan paddle. Setiap perahu diisi lima jurnalis, plus seorang begawan. Begawan ini berperan sebagai guide yang memandu petualangan rafting. Setelah dibekali metode pengoperasian, para kuli tinta melanjutkan petualangannya, menaklukkan 25 riam sungai.

Selama rafting, peserta disuguhkan panorama nan elok. Aroma alam di sungai ini begitu kental menyengat; air terjun Begawan Giri yang spektakuler, kecantikan hutan hujan yang perawan, dan biru briliannya burung pekakak jawa.

Selama mengarungi rintangan sungai, suguhan keasrian alam bisa membuat hidup petualangan. Sungai Ayung melewati celah bukit. Di beberapa bagian memiliki tebing yang tinggi, dengan hutan tropis cukup lebat.

Untuk mengarungi sungai ini memang tak begitu sulit. Namun, medan riam yang disuguhkan sungai memiliki kedalaman rata‑rata dua meter ini, cukup menantang bagi para pemula. Perahu karet yang digunakan pun sempat kandas di atas bebatuan nan terjal. Untuk rafting, sungai ini masuk kategori kelas dua dan kelas tiga. “Kategori ini adalah medan yang standar bagi pemula,” kata Warie, pengarah Mega Rafting.

Selama mengayuh puddle, peserta rafting seakan tak merasakan panasnya terik mentari yang menjulurkan sinarnya ke Ubud. Wajar saja. Sebab, pohon‑pohon tinggi di pinggiran sungai, menutupi “tembakan peluru” panas sang surya. Selain panorama alam dan hutan hujan, di pinggir Sungai Ayung terdapat cottage‑cottage.

Pemandangan lain yang disuguhkan di Sungai Ayung ialah sebuah tempat yang dipenuhi grafiti pahatan. Pahatan‑pahatan menyerupai manusia dan dewa itu diukir pada bebatuan di pinggir Sungai Ayung. Sayangnya, tak ada yang mengetahui secara jelas, siapa pemahat patung tersebut.

Seperti halnya di aliran sungai yang ada di Aceh, di Sungai Ayung juga terdapat aktivitas penambangan pasir. Mekanisme penambangannya sangat unik. Untuk menaikkan pasir ke daratan, digunakan katrol yang bergantung di tali. Dari kejauhan, pengangkutan pasir itu tampak seperti kereta gantung—yang biasa ditemui di TMII.

Untuk menyelesaikan tantangan, seluruh peserta membutuhkan waktu 2-2,5 jam. Setiba di finishing point, para jurnalis disuguhi tantangan lainnya, yakni harus mengalahkan terjalnya 300‑an anak tangga, agar mencapai sisian jalan. Tak jarang, pada sesi ini, banyak yang mengalami kram. Bahkan, ada juga yang ngedumel lantaran tak sanggup lagi menjelajahi anak tangga.

Sungai Ayung memang eksotis. Rafting dari bagian barat sungai Ayung memberi kesan sangat menakjubkan. Nuansanya menyibakkan romantisisme para pengunjung.

Di Bali, terdapat dua sungai yang dijadikan tempat utama kegiatan petualangan ini. Selain Sungai Ayung, lokasi lainnya yang dijadikan arena rafting yakni Sungai Telagawaja. Sungai dimaksud terdapat di Desa Muncan, Karangasem. Bagi yang pertama kali melakukan aktivitas petualangan ini, sungai Ayung merupakan tempat cocok untuk sekadar mencoba. Sedangkan untuk yang ingin merasakan petualangan lebih dahsyat, Sungai Telagawaja tempatnya.

***

Bestarinya alam “Pulau Dewata” itu kontras dengan Aceh. Di “Serambi Mekah”, aktivitas pembalakan liar marak terjadi. Terbukti, intensitas banjir dan tanah longsor yang kian meningkat. jumlahnya mencapai 3‑4 kali dalam satu bulan, baik skala besar maupun kecil.

Bukti lainnya yang dikeluarkan Walhi Aceh: meningkatnya jumlah kayu yang disita pihak kepolisian dan Dinas kehutanan dalam Operasi Hutan Lestari. Penelusuran lembaga peduli lingkungan hidup tersebut, selama 2006, jumlah kayu sitaan mencapai 120.209,50 meter kubik. Jumlah itu meningkat empat kali lipat dari 2005, yakni 33.249,25 meter kubik. Per tahunnya, 20.796 hektare hutan Aceh dinyatakan hilang akibat praktik liar ini.

Selain itu, Greenomics Indonesia melansir, tingkat deforestasi dan degradasi hutan Aceh mencapai titik memprihatinkan. Selama 2002‑2004 mencapai angka hampir 200 ribu hektare. Hampir 60 persen praktik deforestasi tersebut, terjadi di kawasan konservasi dan hutan lindung, termasuk di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser.

Deforestasi juga terjadi di luar kawasan hutan melalui praktik konversi untuk kepentingan pembangunan di luar sektor kehutanan, seperti perkebunan dan kegiatan budi daya lainnyaCmencapai luasan lebih dari 156 ribu hektare. Deforestasi di luar kawasan hutan ini menyumbang 45 persen dari jumlah totalnya.

Begitu juga dengan kegiatan penambangan. Di Bali, penambangan tak menyebabkan sungai abrasi. Pasalnya, pengelolaan sungai dijalankan dengan tertib; mengikuti klausul‑klausul yang ditetapkan pemerintah. Runyamnya, Aktivitas penambangan di Aceh, malah menimbulkan bencana. Salah satunya terjadi abrasi sungai yang mengakibatkan jembatan Utama Lamsie dan Jembatan Gantung Lamtui di Aceh Besar, ambruk. Entah sampai kapan kita harus meratapi nasib hutan Aceh.

Azwani Awi

4 Tanggapan to “Menangisi Hutan Aceh di Lekukan Sungai Ayung”

  1. luar biasa Azwani Awi. sangat dekat, Saya serasa berada di pinggir sungai yang kamu ceritakan itu saat membaca tulisan ini. brilian.

  2. Assalaamualaikum

    pue haba syedara…………….blog mnanataap…. tukar2 link ok,,, semoga terus bisa bersilaturrahmi….

    terimeng geunaseeh..

    wassalam

  3. Pertualangan yang sangat indah dan menegangkan…dengan hutan yang indah dan alami…moga2 hutan di Aceh tidak digundulin oleh para konglomerat serakah

  4. Amru Munandar Says:

    kerennnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn……. ikotan lahhhh

    lirik dan chord lagu aceh bisa di http://nandardeath.wordpress.com/lirik-lagu-aceh-chord/ ada lebih dari 40 judul lagu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: