Pertarungan Politik nan Menggelitik

Film Wakil Rakyat

creative-sound-blaster-x-fi-go-usb-soundcardJenis Film Genre Komedi; Pemain Tora Sudiro, Revalina S Temat, Vincent Rompies, H Jaja Mihardja, Gading Marten, Dwi Sasono, Wiwid Gunawan; Sutradara Monty Tiwa; Penulis Eric Tiwa; Produser Chand Parvez; Produksi Stravision; Durasi 90 Menit.

INI bukan kampanye partai politik. Bukan pula film dokumenter pesanan calon anggota legislatif (caleg). Tapi, film ini menggambarkan fenomena seorang manusia, yang mendadak beruntung setelah ditarik-ulur nasib.

Adalah Bagyo (Tora Sudiro) yang dituduh mengacau Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Partai Sosial Kerakyatan (PSK). Untuk pelaksanaan Rakernas itu, presidium partai politik (parpol) menggunakan jasa Cerah Jaya Cleaning Service. Perusahaan dimaksud pun menugaskan Bagyo di even tersebut.

Akan tetapi, saat Rakernas berlangsung, Bagyo tertidur lelap. Kepulasannya tak terganggu dengan yel-yel parpol yang memekik keras hingga meriuhkan ruangan.

Tiba-tiba, seekor kucing masuk ke ruang utama tempat pelaksanaan Rakernas. Munculnya kucing dimaksud sempat menghentikan orasi pengurus parpol. Akhirnya, kucing tersebut menyerang Ketua Umum PSK, Zainuddin (Joe Project P).

Seketika itu pula, suasana Rakernas gaduh. Bagyo dituduh tak bisa menjalankan tugas dengan baik. Nama Cerah Jaya Cleaning Service tercoreng. Bagyo pun dihadapkan dengan ancaman PHK dari perusahaannya.

PHK dimaksud menimbulkan bencana besar bagi Bayo. Sebab, pemecatannya berimbas pada rencana pernikahan dirinya dengan Ani (Revalina S Temat) batal. Apa lagi Abdul (Jaja Mihardja), ayah Ani tidak menyukai Bagyo.

Dia pun memohon kepada pimpinannya, agar membatalkan rencana pemecatan itu. “Saya mau ngelamar pacar saya minggu depan lho Pak. Kalau bapak pacar saya tahu saya nganggur, bisa ditolak saya,” ujar Bagyo memelas.

Tapi, permohonan itu ditolak atasannya. “Mau married mana bisa bohong? Tamat kamu Gyo. Penis! Eh… finish!”

Peristiwa PHK itu membuat hubungan cinta Bagyo dan Ani terombang-ambing. Bagyo pun berusaha keras mencari cara untuk mewujudkan impiannya bersanding bersama Ani.

Hingga akhirnya, sebuah keberuntungan menghampiri. Tanpa sengaja, Bagyo melihat artis terkenal, Atika (Wiwid Gunawan) dirampok sekumpulan penjahat. Naluri baik Bagyo muncul. Tanpa mengkhawatirkan keselamatannya, Bagyo bergegas mendekati perampok itu.

Ternyata, aksi Bagyo tak membuat gerombolan perampok gentar. Mereka tak menghiraukan kedatangan Bagyo. Akhirnya, Bagyo pun menghajar gerombolan tersebut. Alhasil, perampokan itu gagal. Atika luput dari bahaya.

Sejak saat itu, Bagyo mendadak tenar. Keberaniannya menggagalkan perampokan artis terkenal menjadikan dia sebagai pahlawan yang disanjung dan dipuja. Namanya langsung menjadi “buah bibir” berbagai media nasional maupun daerah.

Ketenaran Bagyo memunculkan kagum sejumlah pihak. Parpol pun tak ketinggalan. Partai Perjuangan Giyagarti mulai melirik popularitas Bagyo. Parpol papan atas itu berencana merekrutnya untuk menggaet dukungan massa.

Hingga suatu ketika, Bagyo dirayu oleh Ketua Partai, Wibowo (Tarzan) dan asistennya Dani (Dwi Sasono). Dalam sebuah pertemuan ekslusif di ruang kerja Wibowo, pembicaraan keduanya menjurus serius.

“Kamu akan saya ajak bergabung ke Partai Perjuangan Giyagarti,” ujar Wibowo membuka percakapan.

“(Tertawa) Saya gak ngerti politik, Pak,” jawab Bagyo.

Nggak perlu ngerti politik wakil rakyat itu…” timpal Wibowo sembari terus mengeluarkan jurus rayuan mautnya.

Akhirnya, kesepakatan keduanya dibubul. Bagyo bergabung dengan parpol dimaksud. Untuk atribut kampanye, dia berpose ala Gatot Kaca. Namanya dipanjangkan menjadi Bagyo Citra Lestari. “Nama tiga kata biar orang mudah mengingat,” ujar Bagyo kepada Jereng (Vincent Rompies), bekas anak buahnya.

Sejak saat itu, popularitas Bagyo sebagai caleg kian meningkat. Berbagai media massa menonjolkan dia. “Dari Lampu Merah Kampung Melayu ke Senayan” demikian judul headline di sebuah surat kabar yang memuat profilnya.

Namun, Bagyo tak seutuhnya menikmati ketenaran itu. Di sinilah sutradara Monty Tiwa memainkan cerita. Alur baru masuk ketika ketenaran menjadi penyebab rapuhnya hubungan Bagyo dan Ani. Prahara pun menerpa. Salah satu penyebabnya, Bagyo banyak dielu-elukan orang, termasuk perempuan.

Tapi, Bagyo masih tetap berusaha memperbaiki hubungannya dengan Ani. Di sisi lain, dia pun kian larut dengan ketenaran dan nama besar. “Kamu tu bukan Mas Bagyo yang aku kenal. Kamu tu…” gugat Ani melihat perubahan Bagyo.

Tak ayal, prahara dimaksud misahkan Ani dan Bagyo. Bagyo tak mampu mencegat kepergian Ani meski sudah menyusul ke stasiun kereta api. Ani tetap berlalu, sementara Bagyo meneruskan aktivitasnya di parpol.

Saat musim kampanye tiba, Bagyo ditemani Jereng berangkat ke Wadasrejo. Daerah itu terpencil. Rakyatnya hidup serbakurang.

Ternyata, masyarakat Wadasrejo tidak mengenal Bagyo sama sekali. Bagyo harus mencari akal untuk memperkenalkan diri dan menarik simpati warga. Dia melakukan berbagai intrik, termasuk membagi susu secara gratis kepada warga setempat.

Tapi, masyarakat tak meladeninya. Warga desa itu lebih tahu apa yang paling mereka butuhkan. Hingga suatu kejadian menyadarkan Bagyo. Dia menemukan kenyataan lain yang lebih penting daripada nama besar dan popularitas.

Kenyataan apa yang diperoleh Bagyo? Eit… jangan keterusan dulu. Tunggu tanggal tayangnya pada 2 April 2009 secara serentak di seluruh bioskop nasional. Pastinya, film yang mengisahkan pertarungan politik nan menggelitik ini layak ditonton. Sebab, bisa menjadi perbandingan opini di tengah “topeng” caleg memenuhi taman kota dan pepohonan.

Rumah produksi Starvision sengaja menargetkan penayangan film layar lebar bertajuk “Wakil Rakyat” ini sebelum Pemilu 2009. Produser Chand Parwez Servia sengaja menunjukkan realita keseharian serta sepak terjang anggota DPR dari beragam latar belakang.

Alasan itu bisa diterima. Lihat saja Bagyo. Personifikasinya melekat dengan konteks pemilu kekinian; anak muda yang mencoba menekuni dunia politik. Akan tetapi, tanpa disadari akan terseret dengan sendirinya di pusaran hiruk-pikuk dan hingar-bingar panggung politik. Sama seperti di Aceh, tidak ada yang terpikirkan tentang itu sebelumnya.

Seolah, tak ada yang canggung dalam film ini. Tora Sudiro, Revalina S Temat, Wiwid Gunawan, Vincent Rompies, Debby Sahertian, Tarzan, Tessy, Marwoto, Mat Solar, dan pemain lain memainkan peranannya dengan apik. Sayangnya, film itu tak memberikan pendidikan politik bagi masyarakat ke arah demokrasi lebih baik.

Namun, ada satu adegan dalam film ini yang patut menjadi renungan semua pihak. Seperti diucapkan Bagyo dalam kesadarannya: Ternyata, lebih mudah mendekatkan diri kepada Tuhan daripada kepada rakyat, Pak.

Azwani Awi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: